Bitcoin Tembus USD 77.000, Ternyata Dipicu Langkah Tak Terduga Militer AS

Bitcoin melonjak di atas USD 77.000 setelah militer AS menguji teknologi blockchain untuk keamanan siber.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 24 April 2026, 06:00 WIB
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin melonjak dan berhasil menembus level USD 77.000 setelah militer Amerika Serikat (AS) mengungkapkan keterlibatannya dalam pengujian teknologi blockchain.

Dikutip dari CoinMarketCap, Jumat (24/4/2026), Militer AS diketahui menjalankan node aktif di jaringan Bitcoin sebagai bagian dari uji coba keamanan siber. Langkah ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan pemerintah di luar sektor keuangan dalam memanfaatkan teknologi blockchain.

Komandan Indo-Pacific Command AS, Samuel Paparo, mengungkapkan hal tersebut dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata Senat.

Ia menjelaskan bahwa node Bitcoin yang dijalankan digunakan untuk berbagai pengujian operasional guna meningkatkan kemampuan pertahanan jaringan.

Paparo menegaskan, fokus utama penggunaan teknologi ini bukan pada aspek finansial, melainkan pada keamanan digital.

“Our interest in Bitcoin is not in its financial value as a store of wealth. We are exploring its infrastructure benefits from a computer science and cryptography perspective. Proof-of-work creates robust technical barriers to secure networks,” ujarnya.

“Ketertarikan kami terhadap Bitcoin bukan pada nilai finansialnya sebagai penyimpan kekayaan. Kami mengeksplorasi manfaat infrastrukturnya dari perspektif ilmu komputer dan kriptografi. Mekanisme proof-of-work menciptakan hambatan teknis yang kuat untuk mengamankan jaringan,” ujarnya.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Persaingan AS dan China di Ekosistem Bitcoin

Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)

Langkah militer AS ini juga mencerminkan persaingan global yang semakin meluas ke ekosistem Bitcoin, terutama antara Amerika Serikat dan China.

China dilaporkan menguasai sekitar 190.000 BTC yang diperoleh dari penyitaan kasus penipuan pada 2019. Nilainya kini diperkirakan mencapai USD 14,8 miliar.

Di sisi lain, Amerika Serikat masih memegang cadangan Bitcoin terbesar di dunia serta dominasi dalam aktivitas penambangan kripto.

Pada akhir Maret, Senator AS Bill Cassidy dan Cynthia Lummis memperkenalkan RUU “Mined in America Act” untuk mendorong penambangan Bitcoin domestik.

Selain itu, regulasi tersebut juga bertujuan memberikan status hukum bagi cadangan strategis Bitcoin yang sebelumnya diinisiasi oleh Donald Trump.

 

Dampak Pasar dan Ancaman Siber Global

Ilustrasi Harga Bitcoin (Source: freepik.com)

Pengumuman militer AS berdampak langsung pada pasar kripto. Pada 22 April, harga Bitcoin melonjak melewati USD 77.000, mendorong sentimen positif investor.

Kenaikan ini juga didukung aksi pembelian besar oleh perusahaan milik Michael Saylor yang mengakumulasi 34.164 BTC senilai lebih dari USD 2,5 miliar.

Analis bahkan memperkirakan kapitalisasi pasar Bitcoin dapat mencapai USD 21 triliun, dengan potensi harga per koin menyentuh USD 1 juta.

Di sisi lain, meningkatnya minat terhadap teknologi blockchain juga didorong oleh ancaman siber global. Kelompok peretas seperti Lazarus Group dari Korea Utara dilaporkan mencuri aset kripto hingga USD 600 juta hanya dalam April 2026.

Kondisi ini mendorong pemerintah AS memperkuat sistem keamanan digital dan meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi ancaman siber di era ekonomi digital.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya