Liputan6.com, Jakarta - Piala Dunia selalu menyajikan drama tak terduga, dan salah satu momen paling mengejutkan terjadi pada edisi 2002 ketika tim raksasa Italia harus mengakui keunggulan tuan rumah Korea Selatan di babak 16 besar. Kekalahan ini bukan hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan sebuah peristiwa yang memicu kontroversi panjang dan menjadi sorotan dunia sepak bola.
Pertandingan yang berlangsung di Daejeon World Cup Stadium ini mempertemukan skuad Italia yang bertabur bintang dengan tim Korea Selatan yang penuh semangat di bawah asuhan pelatih Guus Hiddink.
Advertisement
Kekalahan telak ini mengulang trauma masa lalu bagi Italia, yang sebelumnya pernah tersingkir secara mengejutkan oleh Korea Utara pada Piala Dunia 1966. Peristiwa ini menunjukkan bagaimana sejarah dapat berulang dengan cara yang paling tidak terduga dalam ajang sepak bola terbesar di dunia.
Insiden kontroversial yang melibatkan wasit Byron Moreno menambah panasnya suasana pasca-pertandingan, memicu kemarahan publik Italia dan teori konspirasi yang beredar luas. Kisah ini menjadi salah satu babak paling gelap dalam sejarah partisipasi Italia di Piala Dunia dan terus dibicarakan hingga kini, menawarkan pelajaran berharga tentang tekanan, ekspektasi, dan ketidakpastian dalam sebuah turnamen global.
Bayangan Masa Lalu: Italia dan Trauma Korea
Pada 22 Juli 1966, kekalahan 1-0 Italia dari Korea Utara di Ayresome Park menjadi noda hitam dalam sejarah sepak bola mereka, menyebabkan tim tersingkir dari Piala Dunia. Bek Italia, Francesco Janich, bahkan disambut lemparan tomat busuk setibanya di bandara Genoa, menunjukkan betapa dalamnya luka kekalahan tersebut bagi bangsa Italia. Trauma ini membekas kuat dalam ingatan kolektif, membentuk narasi emosional yang mendalam.
Tiga puluh enam tahun kemudian, saat Italia kembali bertemu tim dari semenanjung Korea, kali ini Korea Selatan di Piala Dunia 2002, reaksi media sangatlah emosional. Emanuela Audisio dari La Repubblica menggambarkan pertandingan itu sebagai "Pertempuran Caporetto dalam olahraga, Vietnam-nya Italia," menekankan betapa sensitifnya isu ini. Ia menambahkan bahwa "Hanya menyebut kata 'Korea' saja sudah menjadi mimpi buruk," menunjukkan beban sejarah yang dibawa Italia ke pertandingan krusial ini.