Liputan6.com, Jakarta - Ancaman kesehatan dari konsumsi ikan sapu-sapu mulai menjadi perhatian serius. Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur mengingatkan, ikan yang diduga mengandung logam berat itu berpotensi memicu penyakit kronis dalam jangka panjang.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Herwin Meifendy menegaskan, dampak mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu terlihat secara langsung. Justru, menurutnya, bahaya terbesar muncul setelah zat berbahaya tersebut terakumulasi dalam tubuh dalam waktu lama.
Advertisement
"Efek mengonsumsi ikan sapu-sapu tidak selalu langsung terlihat. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak jangka panjang yang bisa memicu penyakit kronis," kata Herwin saat ditemui di Kantor Sudin Kesehatan Jakarta Timur, Rabu (22/4/2026).
Herwin menjelaskan, ikan sapu-sapu berpotensi mengandung logam berat seperti merkuri, timbal (Pb), arsen, dan kadmium. Jika dikonsumsi terus-menerus, zat-zat tersebut dapat menumpuk dalam tubuh dan memicu berbagai penyakit serius.
Merkuri, misalnya, dapat menyerang sistem saraf, otak, hingga organ vital seperti ginjal dan paru-paru. Sementara timbal diketahui berdampak pada saraf pusat yang berisiko menyebabkan penurunan kecerdasan serta gangguan perilaku.
Adapun arsen memiliki sifat karsinogenik yang berpotensi memicu kanker. Sedangkan kadmium dapat merusak ginjal serta sistem pernapasan. Paparan jangka panjang dari logam berat tersebut juga dikaitkan dengan munculnya penyakit degeneratif.
"Jika terus terakumulasi, bukan tidak mungkin memicu gangguan serius seperti penurunan fungsi otak hingga penyakit kronis lainnya," jelas Herwin, dilansir Antara.
Meski ada anggapan bahwa pengolahan tertentu dapat mengurangi risiko, Herwin menegaskan hingga kini belum ada metode yang benar-benar mampu menghilangkan kandungan logam berat secara aman. Karena itu, pihaknya mengimbau masyarakat untuk menghindari konsumsi ikan sapu-sapu dan beralih ke jenis ikan lain yang lebih aman dan bergizi.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga terus menggencarkan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah perairan. Upaya ini dilakukan tidak hanya untuk menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga sebagai langkah pencegahan risiko kesehatan masyarakat.
Gencar Tangkap Sapu-Sapu
Sebelumnya, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur bersama warga berhasil menangkap 1.831 kilogram atau sekitar 1,83 ton ikan sapu-sapu dari berbagai titik perairan di 10 kecamatan.
Data menunjukkan, Kecamatan Makasar menjadi wilayah dengan tangkapan terbesar mencapai 481,55 kilogram. Disusul Kecamatan Ciracas sebanyak 280 kilogram dan Kecamatan Cakung sebesar 240,6 kilogram.
Wilayah lainnya juga mencatat tangkapan signifikan, di antaranya Pasar Rebo 178 kilogram, Cipayung 189 kilogram, Kramat Jati 137,8 kilogram, Jatinegara 126,15 kilogram, Matraman 87 kilogram, Duren Sawit 64,5 kilogram, serta Pulogadung 47,2 kilogram.
Khusus di Kecamatan Cipayung, keterlibatan warga terlihat dari hasil tangkapan di delapan kelurahan. Kelurahan Cipayung mencatat tangkapan tertinggi sebesar 56 kilogram, diikuti Pondok Ranggon 40 kilogram, Setu 31 kilogram, Munjul 28,4 kilogram, Cilangkap 14,4 kilogram, Lubang Buaya 9,3 kilogram, Ceger 5,5 kilogram, dan Bambu Apus 4,4 kilogram.
Dengan meningkatnya kesadaran terhadap bahaya ikan sapu-sapu, Herwin mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam memilih bahan pangan. Dia menekankan pentingnya menghindari konsumsi makanan yang berpotensi mengandung zat berbahaya, terutama yang berdampak dalam jangka panjang.