Bos IEA Ingatkan Perang Iran Israel Picu Krisis Energi Terburuk

Pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan bisa menyebabkan krisis energi.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 21 April 2026, 18:46 WIB
Peringatan penutupan Selat Hormuz telah mengancam pengiriman hampir seperlima konsumsi minyak dunia. Tampak dalam foto, para pekerja berdiri di area stasiun degasifikasi di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan jika sistem energi global sedang menghadapi tingkat kerapuhan atau krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh. Ekonomi global… saat ini bergantung pada sangat sedikit aktor,” kata dia kepada France Inter saat di kantor pusat IEA di Paris.

Birol mengatakan, volatilitas di sekitar Selat Hormuz merupakan faktor risiko utama bagi pasar energi global. Gangguan di jalur perairan sempit tersebut dapat berdampak luas terhadap ekonomi global.

Dia bahkan menyebut situasinya sebagai tidak masuk akal, tetapi nyata. “Vasnya sudah pecah. Dan ketika vas pecah, Anda tidak bisa sepenuhnya memperbaikinya,” kata Birol seraya menegaskan bahwa dampak krisis saat ini akan berlangsung lama.

Ia mengatakan pasar energi global sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik, termasuk sinyal dari aktor politik besar seperti Presiden AS Donald Trump.

Pernyataan-pernyataan Trump mengenai kebijakan perdagangan dan energi terus menambah ketidakpastian pasar. “Ekonomi global saat ini bergantung pada sangat sedikit aktor,” ujar dia sekaligus menekankan konsentrasi risiko dalam rantai pasok energi.

Kepala IEA tersebut juga menyoroti dampak perang di Ukraina, yang mengganggu aliran minyak dan gas serta membentuk ulang rantai pasok global, khususnya di Eropa.

Dia mencatat, Rusia tetap menjadi pemain kunci dalam pasar energi global meskipun ada sanksi dan perubahan pola perdagangan, yang turut menambah volatilitas harga dan jalur pasokan.

Bandingkan dengan Tahun 1970-an

Di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat dan Inggris, harga Bahan Bakar Minyak (BBM) mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Tampak dalam foto, seorang pekerja mengumpulkan oli mesin saat bekerja di stasiun degassing di ladang minyak Zubair, yang operasinya telah dikurangi karena perang Timur Tengah yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran, dekat Basra, Irak, Sabtu, 28 Maret 2026. (AP Photo/Leo Correa)

 

Birol membandingkan situasi saat ini dengan guncangan minyak pada tahun 1970-an. Namun menyatakan bahwa krisis saat ini lebih parah karena dampak gabungannya terhadap minyak, gas, pupuk, dan petrokimia.

Bahkan krisis ini dapat memperdalam inflasi dan memperlambat pertumbuhan global, dengan konsekuensi yang sangat serius bagi negara berkembang, termasuk negara-negara di Afrika dan Asia Selatan.

Terkait Eropa, dikatakan negara seperti Prancis relatif lebih siap, tetapi tetap akan menghadapi harga yang lebih tinggi dan tekanan terhadap daya beli rumah tangga.

Ia menambahkan bahwa pemulihan stabilitas dapat memakan waktu bertahun-tahun, dengan kondisi normal yang mungkin baru tercapai setidaknya dalam dua tahun akibat kerusakan infrastruktur energi dan volatilitas pasar.

Birol juga mengatakan bahwa krisis ini dapat mempercepat transisi energi global, dengan energi terbarukan, tenaga nuklir, dan kendaraan listrik menjadi pihak yang diuntungkan, sementara beberapa negara mungkin akan sementara meningkatkan penggunaan batu bara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya