Liputan6.com, Jakarta - Final Piala Dunia 2026 dipastikan akan menghadirkan sebuah inovasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, yakni penyisipan halftime show bergaya Super Bowl. Keputusan ini, yang secara resmi diumumkan oleh Presiden FIFA Gianni Infantino, telah memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar sepak bola global. Tradisi pertandingan 90 menit tanpa interupsi hiburan besar kini diuji, menimbulkan pro dan kontra mengenai esensi murni dari olahraga paling populer di dunia ini.
Pertunjukan paruh waktu yang megah ini dijadwalkan berlangsung pada 19 Juli 2026, bertepatan dengan laga puncak di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat. Langkah ini merupakan upaya FIFA untuk memperluas daya tarik turnamen dan menarik audiens yang lebih luas, terutama demografi yang lebih muda dan berorientasi hiburan. Namun, banyak pihak khawatir bahwa perubahan ini dapat mengorbankan integritas dan alur alami pertandingan sepak bola.
Advertisement
Infantino menegaskan bahwa halftime show ini akan menjadi "pertunjukan terbesar di dunia", dengan kolaborasi Global Citizen dan kurasi dari Chris Martin serta Phil Harvey dari Coldplay. Inisiatif ini menandai pergeseran signifikan dalam cara FIFA memandang dan menyajikan Final Piala Dunia, mencoba menyeimbangkan antara tradisi olahraga dan tuntutan hiburan modern. Reaksi publik pun terbelah, antara antusiasme terhadap inovasi dan kekhawatiran akan hilangnya identitas sepak bola sejati.
Pengumuman Resmi dan Detail Pertunjukan
Presiden FIFA, Gianni Infantino, secara resmi mengonfirmasi bahwa Final Piala Dunia 2026 akan menampilkan halftime show yang terinspirasi dari Super Bowl NFL, sebuah langkah historis bagi turnamen sepak bola terbesar di dunia. "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, akan ada halftime show di final Piala Dunia pada 19 Juli di New York, New Jersey,” ujar Infantino. Pertandingan final sendiri akan dihelat di MetLife Stadium, New Jersey, Amerika Serikat, pada tanggal 19 Juli 2026.
Pertunjukan spektakuler ini akan diproduksi melalui kerja sama dengan Global Citizen, sebuah organisasi advokasi yang berfokus pada upaya pengentasan kemiskinan global. Lebih lanjut, Chris Martin dan Phil Harvey dari band kenamaan Coldplay akan turut serta dalam mengkurasi para artis yang akan memeriahkan panggung. Infantino mengisyaratkan bahwa akan ada lebih dari satu artis yang tampil, menjanjikan sebuah "pertunjukan terbesar di dunia" yang "pasti akan luar biasa".