Liputan6.com, Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT United Tractors Tbk (UNTR) resmi menyepakati perubahan susunan direksi dan komisaris perseroan. Posisi Presiden Komisaris dan Presiden Direktur resmi berubah.
Corporate Secretary UNTR, Ari Setiawan mengungkapkan ada perubahan jajaran Dewan Direksi dan Dewan Komisaris dalam RUSPT yang berlangsung pada 16 April 2026. Sejumlah nama diketahui mengundurkan diri dan diangkat nama-nama lain sebagai pengantinya.
Advertisement
Posisi Iwan Hadiantoro didapuk menjadi Presiden Direktur menggantikam Frans Kesuma. Iwan sebelumnya menjabat sebagai Direktur PT United Tractors Tbk. Sementara itu, Frans Kesuma ditunjuk menjadi Presiden Komisaris UNTR.
"Sehingga susunan direksi PT United Tractors Tbk menjadi ssbagaimana ditampilkan di layar yang akan berlaku efektif hingga rapat selanjutnya yang akan diadakan pada tahum 2027," kata Ari dalam Konferensi Pers RUPST, di Menara Astra, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Beberapa nama yang mengundurkan diri yakni Djony Bunarto Tjondro daei Presiden Komisaris, Rudy dari Wakil Presiden Komisaris, dan Benjamin Herrenden Birks dari posisi Komisaris.
Frans Kesuma juga telah mengundurkan diri dari posisi Presiden Direktur dan didapuk jadi Presiden Komisaris. Lludy Irwanto Ellias juga mengundurkan diri dari posisi Direktur. Serta, Iwan Hadiantoro mengundurkan diri dari posisi Direktur setelah dipilih menjadi Presiden Direktur.Selain itu, UNTR juga mengangkat Andreas sebagai Direktur perseroan.
Susunan Direksi dan Komisaris Baru
Dewan Direksi
Presiden Komisaris: Iwan Hadiantoro
Direktur: Idot Supriadi
Direktur: Widjaja Kartika
Direktur: Vilihati Surya
Direktur: Ari Sutrisno
Direktur: Hendra Hutahahean
Direktur: Andreas
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Frans Kesuma
Komisaris Independen: Paulus Bambang Widjanarko
Komisaris Independen: Bruce Malcolm Cox
Komisaris Independen : lgnasius Jonan
Komisaris : Dioko Pranoto Santosa
Komisaris: Rudy
Komisaris : Gita Tiffani Boer
Komisaris : Lincoln Lin Feng Pan
UNTR Sepakat Bagi Dividen Rp 1.663 per Saham
Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) sepakat membagikan dividen sebesar Rp 1.663 per saham atas kinerja keuangan 2025. Menyusul besara laba bersih yang dicapai perseroan mencapai Rp 14,81 triliun.
Seperti diketahui, UNTR mencatatkan laba bersih Rp 14,81 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut lebih rendah dari perolehan laba bersih pada 2024 lalu sebesar Rp 19,53 triliun. Besaran itu, menjadi acuan pembagian dividen ke pemegang saham.
"Sebesar Rp 1.663 per lembar saham atau sebanyak-banyaknya Rp 5,92 triliun dibagikan sebagai dividen tunai," kata Corporate Secretary UNTR, Ari Setiawan dalam Konferensi Pers, di Menara Astra, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Ketetapan tersebut diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar di lokasi yang sama. Adapun, angka dividen Rp 1.663 per saham sudah termasuk di dalamnya dividen interim sebesar Rp 567 per saham atau seluruhnya berjumlah Rp 2,06 triliun yang telah dibayarkan pada tanggal 24 Oktober 2025.
Sehingga sisanya sebesar Rp 1.096 setiap saham akan dibagikan kepada Pemegang Saham Perseroan yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 28 April 2026 pukul 16:00 WIB (Recording Date Dividen) dan akan dibayarkan kepada Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 18 Mei 2026.
Sehubungan dengan program pembelian kembali saham (shares buyback) yang sedang berlangsung, jumlah total dividen tunai yang dibagikan akan bergantung pada jumlah total saham yang berhak menerima dividen berdasarkan Daftar Pemegang Saham Perseroan pada Recording Date Dividen.
Laba UNTR
Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) membukukan laba bersih sebesar Rp 14,81 triliun pada tahun buku 2025, turun dibandingkan perolehan tahun 2024 yang mencapai Rp 19,53 triliun.
Melansir laporan keuangan Perseroan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (27/2/2026), pendapatan bersih perseroan turun menjadi Rp 131,30 triliun pada 2025 dari Rp 134,43 triliun pada 2024. Seiring itu, laba bruto ikut terkoreksi menjadi Rp 29,70 triliun dibandingkan Rp 33,83 triliun pada tahun sebelumnya.
Penurunan kinerja juga dipengaruhi oleh kenaikan sejumlah beban operasional. Beban penjualan meningkat menjadi Rp 1,59 triliun dari Rp 1,05 triliun pada 2024. Beban umum dan administrasi juga naik menjadi Rp 6,04 triliun dari Rp 5,59 triliun.
Selain itu, perseroan mencatat beban lain-lain bersih sebesar Rp 256,23 miliar. Biaya keuangan tercatat Rp 2,63 triliun, relatif stabil dibandingkan Rp 2,65 triliun pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, penghasilan keuangan sebesar Rp 1,24 triliun belum mampu sepenuhnya mengimbangi tekanan biaya. Laba per Saham
Dengan kombinasi penurunan pendapatan dan peningkatan beban tersebut, laba sebelum pajak penghasilan turun menjadi Rp 20,18 triliun dari Rp 25,89 triliun. Setelah dikurangi beban pajak penghasilan sebesar Rp 5,01 triliun, laba tahun berjalan tercatat Rp 15,17 triliun, dengan Rp 366,33 miliar diatribusikan kepada kepentingan nonpengendali.
Dari sisi neraca, total aset perseroan per 31 Desember 2025 mencapai Rp 177,64 triliun, naik dari Rp 169,48 triliun pada akhir 2024. Total liabilitas tercatat Rp 74,50 triliun dan ekuitas sebesar Rp 103,14 triliun.
Laba per saham dasar dan dilusian tercatat Rp 4.082 per saham, turun dari Rp 5.378 per saham pada tahun sebelumnya.