[Kolom Pakar] Prof Tjandra Yoga Aditama: Lima Kali Tiga pada Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia

Pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Prof Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan tiga hal untuk lima aspek TB. Berikut hal yang ia paparkan dalam kolom pakar.

oleh Prof Tjandra Yoga AditamaDiterbitkan 16 April 2026, 17:00 WIB
Peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia tingkat Jakarta Timur, yang dimotori oleh Puskesmas Ciracas.

Liputan6.com, Jakarta - Pada 16 April 2026 diselenggarakan peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia tingkat Jakarta Timur, yang dimotori oleh Puskesmas Ciracas. Pada kesempatan ini ada juga pencanangan Desa Siaga TB oleh pihak Walikota Jakarta Timur.

Sesudah pencanangan saya menjadi pembicara terkait tuberkulosis. Saya sampaikan masing-masing 3 hal untuk 5 aspek tuberkulosis, jadi semacam lima kali tiga.

Aspek pertama, diagnosis TB dilakukan melalui tiga hal. Ke satu anamnesis dan pemeriksaan fisik oleh petugas kesehatan, ke dua pemeriksaan bakteri TB dengan Tes Cepat Molekuler (TCM) dan atau mikroskop serta ke tiga pemeriksaan radiologi atau ronsen. Tentu ada juga cara lain seperti tes Mantoux, pemeriksaan IGRA dan lain-lain. 

Aspek ke dua adalah tiga hal tentang penularan. Ke satu, TB menular langsung dari pasien ke orang disekitarnya melalui udara, ke dua pada orang yang tertular kuman TB akan masuk ke paru dan ke tiga dari paru kuman TB dapat menyebar ke alat tubuh lain, seperti otak, tulang, payudara dan lain-lain.

Aspek ke tiga adalah tiga hal tentang pengobatan TB. Ke satu, TB diobati selama 6 bulan, walaupun ada juga kemajuan pengobatan yang selama 4 bulan. Ke dua, pengobatan dibagi dua tahap, awal selama dua bulan dengan empat obat dan lanjutan selama empat bulan dengan dua obat. Ke tiga, TB akan sembuh bila obat dimakan dengan teratur sesuai jadual yang sudah ditetapkan.

 

Pencegahan Tuberkulosis

Aspek ke empat yang saya sampaikan adalah tiga hal tentang pencegahan TB. Ke satu adalah segera mengobati pasien TB sehingga tidak menular ke orang lain. Hal ke dua adalah vaksinasi BCG. Hal ke tiga adalah Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), sesuatu yang amat penting untuk kita tingkatkan pelaksanaannya di Indonesia dan Jakarta.

Aspek ke lima saya sampaikan tiga hal penting lainnya. Ke satu tentang TB Resisten Obat, ke dua tentang peran penting Pengawas Menelan Obat (PMO) dan ke tiga seruan agar mereka dengan keluhan yang mungkin mengarah ke TB untuk memeriksakan diri di Fasilitas Pelayanan Kesehatan terdekat.

** Penulis adalah dokter spesialis paru sejak 1988 atau hampir 40 tahun

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya