IMF Sebut Asia Jadi Motor Ekonomi Dunia, Indonesia Bisa apa?

IMF memproyeksikan Asia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi global. Indonesia punya peluang besar dari tren ini.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 April 2026, 13:15 WIB
Suasana gedung bertingkat dan permukiman warga di kawasan Jakarta, Senin (17/1/2022). Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 mencapai 5,2 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) April 2026 menyebut kawasan Asia, khususnya negara berkembang, akan tetap menjadi pusat pertumbuhan ekonomi global di tengah gejolak dunia.

Dikutip dair laporan tersebut, Kamis (16/4/2026), meski ekonomi global menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik dan ketidakpastian perdagangan, Asia dinilai mampu menjaga momentum pertumbuhan. Kawasan ini ditopang oleh aktivitas perdagangan yang kuat, terutama di sektor teknologi seperti semikonduktor dan industri digital.

IMF mencatat bahwa ekspor teknologi dari negara-negara Asia terus meningkat, seiring permintaan global terhadap digitalisasi dan kecerdasan buatan (AI).

Indonesia sebagai bagian dari Asia Tenggara masuk dalam kelompok negara yang berpotensi menikmati dampak positif dari tren tersebut. Bersama negara ASEAN lainnya, Indonesia diproyeksikan tetap tumbuh stabil di atas 4% dalam beberapa tahun ke depan.

 

Peluang Besar untuk Indonesia

Pemandangan gedung perkantoran dan pusat perbelanjaan di Jakarta, Selasa (5/4/2022). Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2022 menjadi 5,1 persen pada April 2022, dari perkiraan sebelumnya 5,2 persen pada Oktober 2021. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Di tengah pergeseran pusat pertumbuhan global ke Asia, Indonesia memiliki sejumlah peluang strategis. Salah satunya adalah potensi untuk masuk lebih dalam ke rantai pasok global yang kini mengalami perubahan akibat ketegangan geopolitik.

IMF menyoroti adanya pergeseran perdagangan global, di mana negara-negara mulai mencari mitra baru untuk mengurangi ketergantungan pada satu kawasan tertentu. Kondisi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi dan meningkatkan ekspor manufaktur.

Selain itu, pertumbuhan sektor teknologi global juga menjadi peluang besar. Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat industri digital, hilirisasi sumber daya alam, serta meningkatkan nilai tambah produk dalam negeri.

Dengan pasar domestik yang besar dan pertumbuhan konsumsi yang kuat, Indonesia juga memiliki daya tarik tersendiri bagi investor global yang mencari stabilitas di tengah ketidakpastian dunia.

 

Tantangan yang Perlu Diantisipasi

Pertamina juga melakukan berbagai upaya strategis dan optimalisasi distribusi untuk memastikan ketersediaan energi tetap terjaga bagi masyarakat. Tampak dalam foto, para pengendara sepeda motor mengantre untuk mengisi bahan bakar sepeda motor mereka di sebuah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), Jakarta pada Rabu 1 April 2026. (BAY ISMOYO/AFP)

Meski peluang terbuka lebar, IMF mengingatkan bahwa Indonesia tetap menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah tekanan dari kenaikan harga energi dan pangan akibat konflik global.

Harga energi diproyeksikan naik signifikan pada 2026, yang berpotensi meningkatkan inflasi dan menekan daya beli masyarakat.

Selain itu, ketergantungan terhadap impor energi membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga menjadi risiko yang perlu diantisipasi.

IMF menilai, untuk benar-benar memanfaatkan peluang sebagai bagian dari pusat pertumbuhan Asia, Indonesia perlu memperkuat reformasi struktural, meningkatkan daya saing industri, serta menjaga stabilitas ekonomi makro.

Dengan strategi yang tepat, Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain utama dalam peta ekonomi global yang baru.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya