Liputan6.com, Jakarta - PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) mencatat lonjakan laba signifikan sepanjang 2025. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 5,5 miliar atau mencapai 220% dari target yang telah ditetapkan.
Advertisement
"Dari segi profitabilitas, peningkatan pendapatan perseroan yang diiringi dengan pencapaian efisiensi biaya-biaya berpengaruh terhadap pencapaian profit perseroan sebesar 220% dari target yang telah ditetapkan, yaitu terdapat laba bersih tahun berjalan sebesar Rp 5,5 miliar," kata Direktur Keuangan YPAS, Rinawati Dinata, dalam Public Expose, Kamis (16/4/2026).
Kinerja tersebut tidak lepas dari strategi perseroan yang lebih selektif dalam menentukan pasar dan harga jual, dengan fokus pada segmen produk bernilai tinggi (high value). Langkah ini terbukti mampu menjaga profitabilitas di tengah dinamika permintaan pasar.
Rinawati mengungkapkan perseroan secara aktif mengarahkan penjualan ke segmen dengan margin lebih tinggi, termasuk produk untuk kebutuhan food grade dan ekspor.
"Sepanjang tahun 2025, perseroan merambah ke pasar yang memiliki high value untuk fasilitas food grade," ujarnya.
Sepanjang 2025, penjualan perseroan mencapai Rp 362,4 miliar atau 101% dari target Rp 360 miliar. Angka ini juga tumbuh 5,4% dibandingkan realisasi tahun 2024.
Penopang Peningkatan Pendapatan YPAS 2025
Peningkatan pendapatan tersebut didorong oleh penyesuaian harga jual sepanjang tahun serta pergeseran fokus ke pasar dengan nilai tambah lebih tinggi. Dari sisi segmen, penjualan karung plastik mencatat kenaikan 13,5% menjadi Rp 159,2 miliar. Selain itu, segmen roasted dan sandwich melonjak signifikan hingga 147% seiring ekspansi pasar ekspor.
Sebaliknya, segmen kantong semen mengalami penurunan 21,2% menjadi Rp 131,9 miliar akibat melemahnya permintaan domestik. Namun, perseroan tetap menjaga kinerja dengan mengalihkan fokus ke segmen yang lebih menguntungkan.
"Dari segmen kantong semen, tahun 2025 mengalami penurunan 21,2% atau sebesar Rp 131,9 miliar dibandingkan tahun 2024 yang mencatat penjualan sebesar Rp 167,4 miliar," ujarnya.
Efisiensi Biaya Perkuat Kenaikan Laba
Selain strategi penjualan, peningkatan laba YPAS juga ditopang oleh efisiensi biaya dan penurunan harga bahan baku. Hal ini mendorong margin laba kotor perseroan naik sebesar 1,7% dibandingkan tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, laba kotor tercatat sebesar Rp 32,4 miliar, meningkat dari Rp 24,7 miliar pada 2024. Sementara itu, laba usaha juga mengalami kenaikan sebesar 2,1%.
"Sepanjang tahun 2025 laba kotor perseroan tercatat Rp 32,4 miliar dan Rp 24,7 miliar. Laba usaha perseroan juga mengalami kenaikan 2,1% di tahun 2025. Sehingga perolehan laba tahun terjalan mencapai Rp 5,5 miliar," pungkasnya.
Penutupan IHSG Sesi Pertama 16 April 2026
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan saham sesi pertama, Kamis (16/4/2026).
Mengutip data RTI, IHSG ditutup turun 0,36% k e posisi 7.596,09 pada sesi pertama. Indeks saham LQ45 terpangkas 0,43% menjadi 756,66. Sebagian besar indeks saham acuan bervariasi.
Pada sesi pertama, IHSG berada di level tertinggi 7.705,03 dan level terendah 7.578,76. Sebanyak 330 saham melemah sehingga bebani IHSG. 319 saham menguat dan 167 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan 1.671.493 kali dengan volume perdagangan saham 25,5 miliar saham. Nilai transaksi harian Rp 10,8 triliun.
Sebagian besar sektor saham melemah kecuali sektor saham kesehatan naik 2,16%, sektor saham teknologi bertambah 0,45% dan sektor saham transportasi naik 1,33%.
Sementara itu, sektor saham energi melemah 0,87%, sektor saham basic turun 0,80%, sektor sajam saham industri turun 0,17%, sektor saham consumer nonsiklikal susut 0,18%, sektor saham consumer siklikal merosot 0,745. Selain itu, sektor saham keuangan merosot 0,22%, sektor saham properti terpangkas 0,26% dan sektor saham infrastruktur turun 0,86%.