Usai Bertemu Dubes Boroujerdi, Menag Nasaruddin Sebut Hubungan RI–Iran Dilandasi Nilai Keimanan

Nasaruddin juga mendoakan agar kondisi di Iran segera membaik.

oleh Lizsa EgehamDiterbitkan 16 April 2026, 12:47 WIB
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. (Tim Humas Kemenag)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menerima kunjungan Duta Besar (Dubes) Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Rabu, 15 April 2026. Nasaruddin mendoakan agar kondisi di Iran segera membaik.

"Kami mendoakan agar situasi yang dihadapi Iran segera membaik, serta masyarakatnya diberikan ketabahan dan kekuatan," kata Nasaruddin, Kamis (16/4/2026).

Nasaruddin dan Dubes Iran juga membahas hubungan historis yang telah terjalin lama antara Iran dan Indonesia. Nasaruddin menyampaikan bahwa hubungan kedua negara tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga dilandasi nilai-nilai keimanan dan persaudaraan.

Duta Besar Iran, Mohammad Boroujerdi juga menyampaikan kondisi terkini negaranya yang tengah menghadapi berbagai tantangan. Situasi tersebut menjadi perhatian bersama, sekaligus memperkuat pentingnya dukungan moral antarnegara sahabat.

Pertemuan ini menjadi momentum untuk mempererat kerja sama bilateral, khususnya dalam bidang keagamaan, pendidikan, dan penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Kementerian Agama berkomitmen untuk terus menjadi jembatan dalam membangun harmoni dan persaudaraan antarbangsa.

Iran Tuntut Kompensasi Rp 4.623 Triliun atas Serangan AS dan Israel

Sebelumnya, Iran menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Utusan Teheran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Selasa (14/4/2026) menyatakan bahwa lima negara di kawasan harus ikut membayar kompensasi. Dia menuduh wilayah negara-negara tersebut digunakan sebagai titik peluncuran serangan ke Iran. Demikian seperti dikutip dari laporan Al Jazeera.

Iran juga mengusulkan mekanisme kompensasi melalui skema yang mencakup penerapan pajak bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Juru bicara pemerintah Iran Fatemeh Mohajerani dalam wawancara dengan kantor berita Rusia RIA Novosti yang dipublikasikan Selasa, menyebutkan bahwa perkiraan awal kerugian Iran mencapai sekitar USD 270 miliar atau sekitar Rp 4.623 triliun (Rp17.123 per USD), baik secara langsung maupun tidak langsung, sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Meski demikian, dia tidak merinci komponen kerugian tersebut. Dia hanya menegaskan bahwa isu kompensasi telah dibahas dalam perundingan antara Teheran dan Washington di Pakistan pekan lalu dan akan kembali menjadi topik dalam pembicaraan selanjutnya dengan AS serta para mediator.

Pemerintah Iran saat ini masih melakukan penilaian atas besarnya kerusakan pada infrastruktur vital. Sejumlah fasilitas minyak dan gas, perusahaan petrokimia, pabrik baja, pabrik aluminium, hingga kompleks militer menjadi sasaran serangan berulang kali, dan diperkirakan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih sepenuhnya.

Tidak hanya itu, jembatan, pelabuhan, jaringan rel kereta, universitas, pusat penelitian, pembangkit listrik, serta instalasi desalinasi air juga turut terdampak. Banyak rumah sakit, sekolah, dan rumah warga dilaporkan rusak hingga hancur.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya