Konflik Timur Tengah Tekan Ekonomi Indonesia, Ini Analisis IMF

Konflik global berdampak pada Indonesia lewat kenaikan harga energi dan inflasi. Simak analisis IMF terbaru.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 16 April 2026, 12:45 WIB
Dari sisi domestik, aktivitas konsumsi diperkirakan akan menguat pada 2024. Hal itu sejalan dengan terjaganya daya beli masyarakat, inflasi yang terkendali, dan meningkatnya penciptaan lapangan kerja. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Konflik geopolitik global, khususnya di kawasan Timur Tengah, mulai memberikan dampak nyata terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia. Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook (WEO) April 2026 menyoroti bahwa gejolak ini memicu kenaikan harga komoditas, gangguan perdagangan, serta peningkatan ketidakpastian global.

Dikutip dari World Economic Outlook IMF, Kamis (16/4/2026), Indonesia sebagai bagian dari negara berkembang tidak luput dari tekanan tersebut. IMF menilai, negara-negara dengan ketergantungan pada impor energi dan pangan akan menghadapi dampak yang lebih besar dibanding negara maju.

Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Indonesia masih bergantung pada impor energi, khususnya minyak. Ketika harga energi global melonjak, efeknya langsung terasa pada biaya produksi, harga barang, hingga daya beli masyarakat.

Salah satu dampak paling signifikan dari konflik global adalah kenaikan harga komoditas. IMF memproyeksikan harga energi akan meningkat sekitar 19% pada 2026, sementara harga pangan juga ikut terdorong naik akibat gangguan distribusi dan kenaikan biaya produksi.

Bagi Indonesia, kondisi ini berpotensi memicu:

  • Kenaikan harga BBM dan energi
  • Peningkatan biaya logistik dan produksi
  • Tekanan pada harga bahan pokok

Kenaikan harga energi juga berdampak berantai ke berbagai sektor, mulai dari industri hingga transportasi. Sementara itu, kenaikan harga pangan dapat langsung memengaruhi inflasi dan kesejahteraan masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah.

 

Risiko Inflasi dan Pelemahan Rupiah

Investasi, khususnya non-bangunan, tetap menopang pertumbuhan ekonomi. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

IMF juga menyoroti bahwa negara berkembang pengimpor komoditas, seperti Indonesia, menghadapi risiko lebih besar akibat konflik global. Salah satunya adalah tekanan terhadap nilai tukar mata uang.

Ketika harga energi dan pangan naik, kebutuhan impor meningkat. Di sisi lain, ketidakpastian global mendorong investor cenderung menarik dana dari negara berkembang.

Akibatnya:

  • Nilai tukar rupiah berpotensi melemah
  • Inflasi impor meningkat
  • Biaya hidup masyarakat naik

IMF menegaskan bahwa depresiasi mata uang dapat memperparah dampak kenaikan harga global, sehingga tekanan terhadap inflasi menjadi semakin besar.

Selain inflasi, konflik global juga berdampak pada perdagangan internasional. Gangguan jalur logistik dan perubahan pola perdagangan membuat pertumbuhan ekonomi global melambat.

Bagi Indonesia, hal ini dapat berdampak pada:

  • Penurunan ekspor komoditas tertentu
  • Ketidakpastian investasi
  • Melambatnya pertumbuhan ekonomi

Meski demikian, IMF mencatat bahwa kawasan Asia, termasuk ASEAN, masih memiliki daya tahan relatif baik. Pertumbuhan ekonomi kawasan diperkirakan tetap berada di kisaran 4% pada 2026–2027.

Artinya, Indonesia masih memiliki peluang untuk bertahan, meski tekanan eksternal meningkat.

 

Peluang di Tengah Tekanan Global

Permukiman kumuh diantara gedung pencakar langit di kawasan Petamburan, Jakarta, (11/7). Pertumbuhan ekonomi yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, namum masih banyak ketimpangan yang terjadi. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Di balik risiko, IMF juga melihat adanya peluang bagi Indonesia. Pergeseran rantai pasok global akibat konflik membuka kesempatan bagi negara-negara di Asia untuk menarik investasi dan memperkuat posisi dalam perdagangan internasional.

Indonesia dapat memanfaatkan momentum ini dengan:

  • Meningkatkan industrialisasi
  • Memperkuat sektor manufaktur dan hilirisasi
  • Menarik investasi di sektor teknologi dan energi

Selain itu, stabilitas kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk menjaga daya tahan ekonomi nasional.

Ke depan, Indonesia diharapkan mampu menjaga keseimbangan antara menghadapi tekanan global dan memanfaatkan peluang yang muncul, sehingga tetap berada pada jalur pertumbuhan yang stabil.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya