Patroli Senyap di Tahura Wan Abdul Rachman, Menjaga Burung dari Jerat Pemburu Liar

Di balik rimbunnya pepohonan Tahura Wan Abdul Rachman, Lampung, ada cerita sunyi tentang upaya penyelamatan satwa liar yang tak banyak diketahui banyak orang.

oleh Ardi MuntheDiterbitkan 16 April 2026, 00:21 WIB
Tim FLIGHT bersama Polhut saat patroli rutin di Tahura Wan Abdul Rachman, Lapmung. (Liputan6.com/ Ardi Munthe).

Liputan6.com, Lampung - Di balik rimbunnya pepohonan Taman Hutan Raya (Tahura) Wan Abdul Rachman, Lampung, ada cerita sunyi tentang upaya penyelamatan satwa liar yang tak banyak diketahui publik.

Bukan sekadar melepasliarkan burung ke habitatnya, para pegiat konservasi juga harus berjibaku menghadapi ancaman nyata: perburuan liar yang terus mengintai.

Salah satu yang merasakan langsung dinamika tersebut adalah Arief Vickry Fathullah, staf Social Media Specialist dari organisasi perlindungan burung liar FLIGHT.

Ia kerap turun langsung dalam patroli rutin di kawasan Tahura, yang juga menjadi lokasi pelepasliaran burung hasil sitaan dari perdagangan ilegal.

Berpacu dengan Waktu, Berhadapan dengan Pemburu

Arief menuturkan, patroli bukan sekadar rutinitas menyusuri hutan. Dalam beberapa kesempatan, timnya berhadapan langsung dengan para pemburu liar yang mengincar burung-burung yang baru saja dilepasliarkan.

“Beberapa kali kami menemukan pemburu di lokasi. Tapi seringnya mereka kabur lebih dulu,” kata Arief kepada Liputan6.com, Rabu (15/4/2026).

Katanya, para pemburu diduga memiliki jaringan informasi yang cukup cepat. Tak jarang, mereka sudah mengetahui lokasi pelepasliaran dan segera datang untuk menangkap kembali burung-burung tersebut.

Karena itu, tim FLIGHT bersama Polisi Kehutanan (Polhut) kerap melakukan penjagaan pasca pelepasliaran. Tujuannya jelas, memastikan satwa yang sudah kembali ke alam tidak kembali menjadi korban perdagangan.

Kejar-kejaran di Tengah Hutan

Pengalaman paling menegangkan terjadi saat tim patroli memergoki pemburu yang langsung melarikan diri. Dalam kepanikan, pelaku bahkan membuang karung berisi burung hasil tangkapan.

“Pelakunya kabur, tapi burung-burungnya berhasil kami selamatkan karena dibuang saat dia lari,” tuturnya.

Meski tidak selalu berujung penangkapan, upaya penyelamatan satwa tetap menjadi prioritas utama.

Dalam banyak kasus, pendekatan persuasif dilakukan, mengingat kewenangan penindakan berada di tangan aparat Polhut.

Modus Perburuan: Dari Getah hingga Suara Pancing

Arief mengungkapkan, para pemburu memiliki berbagai cara untuk menjebak burung.

Salah satu metode yang paling umum adalah menggunakan pulut, yakni getah lengket yang dioleskan pada ranting.

Selain itu, mereka juga memanfaatkan suara rekaman burung, dikenal dengan istilah “ngeriwik” untuk memancing burung lain mendekat.

“Begitu burung hinggap di ranting yang sudah diberi pulut, langsung lengket dan tidak bisa terbang,” jelasnya.

Metode itu dinilai sangat merusak karena dapat menangkap banyak burung dalam waktu singkat tanpa seleksi, termasuk burung yang dilindungi.

Saat ini, patroli di Tahura dilakukan secara rutin setiap hari kerja bersama Polhut.

Jalur patroli pun dibuat acak untuk mengantisipasi pergerakan pemburu.

Meski dalam beberapa waktu terakhir aktivitas perburuan di area tertentu menurun, ancaman belum sepenuhnya hilang.

Dalam patroli terbaru, tim masih menemukan individu yang membawa senjata api dan diduga hendak berburu.

“Kalau ada bukti pelanggaran, biasanya langsung disita dan pelakunya dibawa ke kantor untuk diperiksa,” kata Arief.

 

Penggagalan upaya penyelundupan ratusan burung liar di sebuah mobil bus di Lampung. (Liputan6.com/ Ardi Munthe).

Dari Jalan Tol hingga Hutan: Rantai Perdagangan yang Panjang

Pelepasan burung liar hasil sitaan tim FLIGHT, Polhut serta Polda Lampung di Tahura Wan Abdul Rachman. (Liputan6.com/ Ardi Munthe).

Ancaman terhadap burung liar tidak hanya terjadi di dalam hutan. Arief juga terlibat dalam operasi bersama aparat kepolisian mengungkap penyelundupan satwa di jalan tol hingga Pelabuhan Bakauheni, Lampung Selatan.

Salah satu kejadian yang paling membekas terjadi pada Februari 2026, saat tim melakukan pengejaran terhadap kendaraan yang membawa ratusan burung ilegal dari Sumatera.

Mobil pelaku sempat melaju kencang hingga keluar dari gerbang tol, sebelum akhirnya berhasil diamankan di kawasan permukiman warga.

“Burungnya disembunyikan, tapi akhirnya berhasil ditemukan,” ungkapnya.

Kepedulian yang Berawal dari Keprihatinan

Bagi Arief, keterlibatannya dalam konservasi bukan tanpa alasan. Pengalaman melihat kondisi burung di pasar membuatnya tersentuh.

Ia mengaku pernah melihat ratusan burung dijejalkan dalam satu kandang dengan kondisi yang memprihatinkan.

“Kalau ini terus terjadi, bisa jadi anak cucu kita engga lagi melihat burung di alam,” katanya.

Dari situlah muncul dorongan untuk terlibat lebih jauh, hingga kini ia telah mengabdikan diri selama hampir delapan tahun bersama FLIGHT, baik sebagai relawan maupun staf.

 

Ribuan Burung Diselamatkan, Tapi Tantangan Belum Usai

Burung liar hasil sitaan tim FLIGHT dari perburuan liar di Lampung. (Liputan6.com/ Ardi Munthe).

Direktur Eksekutif FLIGHT, Marison Guciano, mencatat lebih dari 14 ribu burung berhasil diselamatkan dari perdagangan ilegal di Lampung sepanjang 2025.

Sebagian besar burung tersebut disita di Pelabuhan Bakauheni dan ruas Tol Terbanggi-Bakauheni sebelum diselundupkan ke Pulau Jawa.

Burung-burung yang berhasil bertahan kemudian dilepasliarkan, termasuk di kawasan Tahura Wan Abdul Rachman yang memiliki luas lebih dari 22 ribu hektare.

Namun, tingginya permintaan pasar di Pulau Jawa masih menjadi tantangan besar. FLIGHT mencatat terdapat lebih dari 11 ribu toko burung dan 125 pasar burung yang terus membutuhkan pasokan, terutama dari Sumatera.

Menurut Marison, upaya penindakan harus diimbangi dengan edukasi kepada masyarakat.

“Keberadaan burung di alam sangat penting bagi keseimbangan ekosistem,” tegasnya.

Di tengah sunyinya hutan, perjuangan menjaga burung liar ternyata penuh risiko dan ketegangan. Dari patroli senyap hingga kejar-kejaran di jalan tol, satu hal yang pasti.

"Menjaga alam tetap lestari membutuhkan keberanian, konsistensi, dan kepedulian yang tak pernah padam," imbuhnya.

 

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya