Bela Trump, Wapres AS Sebut Unggahan Menyerupai Yesus Hanya Lelucon

Vance tidak hanya membela Trump, namun juga memujinya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 April 2026, 14:25 WIB
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance saat berbicara di Konferensi Keamanan Munich pada Jumat (14/2/2025). (Dok. AP Photo/Matthias Schrader)

Liputan6.com, Washington, DC - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) JD Vance pada Senin (13/4/2026) menyatakan bahwa unggahan media sosial Presiden Donald Trump yang menampilkan dirinya dalam rupa seperti Yesus Kristus merupakan sebuah "lelucon."

Dalam wawancara dengan Fox News, Vance mengatakan, "Saya pikir presiden mengunggah sebuah lelucon, dan tentu saja, dia menghapusnya karena menyadari bahwa banyak orang tidak memahami humornya dalam kasus itu."

Ia menambahkan, "Presiden suka membuat suasana menjadi lebih ramai di media sosial."

Menurut Vance, gaya komunikasi Trump yang langsung menjadi salah satu kelebihannya.

"Saya justru berpikir itu salah satu hal baik dari presiden ini, yaitu dia tidak difilter. Dia tidak mengirimkan semuanya melalui profesional komunikasi. Dia benar-benar berkomunikasi langsung dengan masyarakat," ujarnya.

Trump pada Senin menghapus unggahan tersebut dari platform miliknya, Truth Social. Unggahan itu memuat gambar hasil kecerdasan buatan (AI) dan muncul di tengah perselisihan publik yang memanas dengan Paus Leo XIV, menyusul kritik atas perang Iran.

Trump sendiri membela unggahannya dengan mengatakan, "Saya memang mengunggahnya dan saya mengira itu adalah saya sebagai seorang dokter, serta berkaitan dengan Palang Merah. Di situ ada seorang pekerja Palang Merah yang kami dukung, dan hanya media palsu yang bisa mengada-ada soal itu." 

Terkait dengan perbedaan dengan Vatikan, "Kita bisa menghormati paus. Kita tentu memiliki hubungan yang baik dengan Vatikan, tetapi kadang-kadang kita juga akan berbeda pendapat dalam hal-hal yang bersifat substantif. Saya pikir itu adalah hal yang sepenuhnya wajar."

"Akan lebih baik bagi Vatikan untuk fokus pada urusan moral, pada hal-hal yang terjadi di dalam Gereja Katolik dan membiarkan presiden AS mengatur kebijakan publik AS," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya