Dampak Konflik Timur Tengah, 8,8 Juta Warga Asia Pasifik Terancam Miskin

Konflik Timur Tengah berdampak ke Asia-Pasifik, UNDP sebut 8,8 juta orang terancam miskin akibat lonjakan energi dan ekonomi.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 15 April 2026, 15:20 WIB
Beberapa laporan menyebut, adanya kebakaran besar di fasilitas kilang di ibu kota Iran, Teheran, setelah dihantam serangan udara pada Sabtu 7 Maret 2026 malam. Tampak dalam foto, dua wanita dari Palang Merah Iran berdiri saat kepulan asap tebal dari serangan AS-Israel terhadap fasilitas penyimpanan minyak Sabtu 7 Maret 2026 malam membubung ke langit di Teheran, Minggu, 8 Maret 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Liputan6.com, Jakarta - Berbagai capaian pembangunan manusia di kawasan Asia dan Pasifik kini menghadapi tekanan serius akibat eskalasi konflik militer di Timur Tengah terutama antara Amerika Serikat dengan Iran. Dampaknya tidak hanya terasa di tingkat global, tetapi juga merambat hingga ke ekonomi domestik dan rumah tangga di berbagai negara, meskipun saat ini terdapat gencatan senjata sementara.

Dalam laporan United Nations Development Programme (UNDP) dikutip Rabu (15/4/2026), analisis awal terbaru menunjukkan bahwa gejolak yang terjadi, terutama melalui sektor energi, perdagangan, dan tenaga kerja, mulai menekan pendapatan masyarakat, konsumsi, hingga lapangan kerja.

Kelompok yang paling terdampak adalah rumah tangga berpendapatan rendah, pekerja informal, migran, serta pelaku usaha kecil. Dalam kondisi ini, perempuan disebut menjadi kelompok dengan tingkat kerentanan paling tinggi.

Laporan tersebut merangkum asesmen dari 36 negara di Asia-Pasifik, dilengkapi dengan simulasi ekonomi makro untuk menggambarkan dampak menyeluruh di kawasan. Hasilnya menunjukkan tekanan ekonomi yang semakin nyata dan berpotensi meluas jika konflik berkepanjangan.

Kenaikan harga energi menjadi salah satu dampak paling cepat dirasakan masyarakat. Hal ini dipicu oleh gangguan pasokan minyak dan gas global yang berdampak langsung pada biaya hidup sehari-hari.

 

Jutaan Orang Berisiko Jatuh Miskin

Serangan terbaru Iran ini menandai eskalasi ketegangan geopolitik kawasan Timur Tengah yang lebih luas, melibatkan penggunaan rudal balistik canggih dan drone yang menyasar infrastruktur strategis Israel. Tampak dalam foto, pasukan keamanan Israel dan tim penyelamat memeriksa lokasi yang terkena serangan rudal Iran di Petah Tikva, Israel, Selasa 31 Maret 2026. (AP Photo/Ohad Zwigenberg)

Lebih dari 80 persen minyak mentah dan gas alam cair (LNG) yang melintasi Selat Hormuz ditujukan untuk pasar Asia. Kondisi ini membuat kawasan Asia-Pasifik sangat rentan terhadap gejolak harga energi global.

Kenaikan harga bahan bakar dan biaya pengiriman berdampak luas, mulai dari transportasi, listrik, hingga harga pangan dan pupuk. Efek berantai ini memperberat beban rumah tangga, terutama kelompok rentan.

UNDP memperkirakan sekitar 8,8 juta orang berisiko jatuh ke dalam kemiskinan akibat tekanan tersebut. Sementara itu, potensi kerugian ekonomi diproyeksikan mencapai antara USD 97 miliar hingga USD 299 miliar, atau sekitar 0,3 hingga 0,8 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan.

Dari sisi pembangunan manusia, Iran menjadi salah satu negara yang terdampak signifikan dengan penurunan indeks setara hilangnya satu hingga satu setengah tahun kemajuan. Sementara itu, negara lain mengalami perlambatan pembangunan dari hitungan minggu hingga bulan.

 

Asia Selatan Paling Terdampak

Tim pemadam kebakaran dan darurat Iran terus berjibaku memadamkan kobaran api akibat serangan tersebut. Tampak dalam foto, kepulan asap tebal membubung dari fasilitas penyimpanan minyak yang terkena serangan AS-Israel pada Sabtu 7 Maret 2026 malam di Teheran, Iran, Minggu 8 Maret 2026. (AP Photo/Vahid Salemi)

Dampak paling besar diperkirakan terjadi di kawasan Asia Selatan, sementara Asia Timur dan Asia Tenggara dinilai relatif lebih mampu menahan tekanan. Namun, risiko tetap meningkat terutama bagi negara yang bergantung pada impor energi, pangan, dan remitansi.

Sejumlah pemerintah di kawasan telah mengambil langkah cepat untuk meredam dampak, seperti stabilisasi harga bahan bakar, pemberian subsidi yang lebih tepat sasaran, hingga kampanye penghematan energi. Beberapa negara juga mulai melakukan diversifikasi sumber energi serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi.

Asisten Sekretaris Jenderal PBB sekaligus Direktur Regional UNDP untuk Asia dan Pasifik Kanni Wignaraja menjelaskan, dampak konflik ini di Asia-Pasifik sudah mulai terasa nyata, bahkan lebih cepat dibanding respons kebijakan yang bisa dilakukan.

"Meskipun ada gencatan senjata, ketidakpastian di pasar global masih tinggi dan memaksa negara menghadapi pilihan yang tidak mudah antara menjaga stabilitas harga, melindungi kelompok rentan, dan tetap mempertahankan layanan publik serta investasi penting," jelas dia dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026). 

"Namun di sisi lain, situasi ini juga membuka peluang untuk memperkuat ketahanan jangka panjang, misalnya melalui perlindungan sosial yang lebih adaptif, penguatan rantai nilai lokal dan regional, serta diversifikasi sistem energi dan pangan,” tutur Kanni Wignaraja.

“Ini bukan sekadar soal kebijakan ekonomi biasa. Ini adalah ujian apakah negara mampu mengantisipasi dan beradaptasi dengan cepat untuk melindungi capaian pembangunan manusia dan keamanan manusia di tengah dunia yang semakin tidak pasti,” tambahnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya