Viktor Orban Kalah Telak dalam Pemilu Hungaria, Akhiri Kekuasaan Selama 16 Tahun

Partai oposisi Partai Tisza yang dipimpin Peter Magyar menang dalam pemilu di Hungaria, mengalahkan Viktor Orban.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 13 April 2026, 12:35 WIB
PM Hungaria Viktor Orban (AP Photo)

Liputan6.com, Budapest - Partai oposisi Partai Tisza yang dipimpin Péter Magyar meraih kemenangan besar dalam pemilihan umum Hungaria, mengakhiri dominasi selama 16 tahun Viktor Orban dan membuka babak baru hubungan negara itu dengan Uni Eropa.

Kurang dari tiga jam setelah pemungutan suara ditutup pada Minggu, Orban mengakui kekalahan. Dalam pidatonya di Budapest, ia menyebut hasil tersebut sebagai “menyakitkan tetapi jelas” dan menyampaikan selamat kepada pihak pemenang.

“Kami akan tetap melayani bangsa Hungaria, bahkan dari posisi oposisi,” ujarnya, dikutip dari laman The Guardian, Senin (13/4/2026).

Berdasarkan hampir seluruh suara yang telah dihitung, Partai Tisza diproyeksikan mengamankan 138 dari total 199 kursi parlemen—memberi mereka mayoritas super yang cukup untuk mengubah konstitusi serta membalik sejumlah kebijakan kunci yang diterapkan pemerintahan sebelumnya.

Sementara itu, partai penguasa Fidesz hanya memperoleh 55 kursi, dan partai sayap kanan Mi Hazánk meraih enam kursi.

Dalam pidato kemenangan di tepi Sungai Danube, Magyar menyebut hasil pemilu sebagai momen bersejarah. “Malam ini, kebenaran menang atas kebohongan,” katanya di hadapan puluhan ribu pendukung.

Kemenangan ini dipandang sebagai titik balik politik Hungaria, sekaligus sinyal perubahan arah kebijakan luar negeri negara tersebut. Magyar sebelumnya berjanji memperbaiki hubungan yang memburuk dengan Uni Eropa, memberantas korupsi, serta meningkatkan pendanaan untuk layanan publik.

Pemilu ini juga menjadi sorotan global sebagai ujian bagi pengaruh gerakan sayap kanan internasional yang selama ini menjadikan Orban sebagai figur inspiratif. Dalam beberapa hari terakhir sebelum pemungutan suara, dukungan terhadap Orban mengalir dari berbagai tokoh, termasuk Donald Trump dan Wakil Presiden AS JD Vance.

Namun hasil pemilu justru disambut positif oleh sejumlah pemimpin dunia. Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut kemenangan tersebut sebagai tanda bahwa Hungaria “kembali ke jalur Eropa.” Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menggambarkannya sebagai “momen bersejarah bagi demokrasi Eropa.”

 

Ucapan Selamat dari Pemimpin di Eropa

Presiden Prancis Emmanuel Macron saat menghadiri Pertemuan Tahunan World Economic Forum di Davos, Swiss, Selasa (20/1/2026). (Dok. AP/Markus Schreiber)

Ucapan selamat juga datang dari Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Kanselir Jerman Friedrich Merz, sementara Perdana Menteri Polandia Donald Tusk menyambut hasil tersebut dengan nada simbolis, menyerukan “persatuan kembali” Eropa.

Selama masa kekuasaannya, Orban dikenal mendorong model pemerintahan “iliberal” dengan memperkuat kontrol atas media, mereformasi sistem peradilan, serta mengubah aturan pemilu. Ketegangan dengan Uni Eropa pun meningkat, terutama setelah Budapest memveto sejumlah kebijakan terkait Rusia dan Ukraina.

Di dalam negeri, gelombang penolakan terhadap pemerintah meningkat dalam beberapa bulan terakhir, termasuk demonstrasi besar di Budapest yang diikuti ratusan ribu orang.

Tingkat partisipasi pemilih mencapai hampir 80 persen, dengan peran signifikan dari pemilih muda. Survei menunjukkan mayoritas pemilih di bawah 30 tahun memilih untuk menentang Orban.

Di jalanan Budapest, suasana perayaan pecah setelah hasil diumumkan. Banyak warga menyebut kemenangan ini sebagai harapan baru bagi masa depan negara.

“Kami akhirnya punya kesempatan untuk membangun negara yang lebih baik,” ujar seorang warga yang ikut merayakan kemenangan.

Dengan mandat kuat di parlemen, pemerintahan baru di bawah Magyar kini dihadapkan pada tantangan besar: memulihkan institusi demokrasi, memperbaiki hubungan dengan mitra internasional, serta menjawab ekspektasi tinggi publik yang menginginkan perubahan cepat setelah lebih dari satu dekade pemerintahan Orban.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya