Serangan Israel Tewaskan Bayi Perempuan di Lebanon Selatan Saat Pemakaman Ayahnya

Ia selamat dalam serangan Israel yang menewaskan ayahnya, namun ternyata ajal menjemputnya justru saat mengantarkan kepergian sang ayah.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 13 April 2026, 11:47 WIB
Militer Israel berdalih bahwa intensitas serangan menargetkan infrastruktur yang diklaim sebagai milik Hizbullah, meski berdampak pada pemukiman penduduk. Tampak dalam foto, sebuah ekskavator membersihkan puing-puing di lokasi serangan Israel pada Minggu 5 April 2026 terhadap sebuah bangunan di lingkungan Jnah, Beirut, Lebanon, Senin 6 April 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Beirut - Seorang anak perempuan berusia tujuh tahun, Aline Saeed, selamat setelah serangan udara Israel menghantam rumah keluarganya di selatan Lebanon pekan lalu. Tubuhnya kini terbalut perban akibat luka-luka yang dideritanya.

Mengutip laporan CNA, Aline kembali ke Desa Srifa untuk menghadiri pemakaman ayahnya, di tengah harapan akan adanya gencatan senjata di kawasan tersebut. Namun, serangan lainnya justru menewaskan adik perempuannya yang masih bayi serta sejumlah kerabat lainnya.

Serangan terhadap rumah keluarga Saeed terjadi pada Rabu, 8 April, bertepatan dengan hari pertama gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Banyak warga Lebanon berharap kesepakatan juga berlaku di negara mereka. Kenyataannya, serangan Israel pada hari tersebut menewaskan lebih dari 350 orang di Lebanon dan membuat keluarga Saeed harus memakamkan empat anggota keluarga lagi.

"Mereka bilang ada gencatan senjata. Seperti orang-orang lainnya, kami kembali ke desa. Kami menuju peti jenazah untuk membaca doa lalu berjalan pulang... tiba-tiba kami merasa seperti badai turun tepat di atas kami," kata Nasser Saeed, kakek Aline yang berusia 64 tahun dan juga selamat dari serangan itu.

Pada Minggu (12/4), Nasser bersama kerabat lainnya pergi ke kota pelabuhan Tyre di selatan Lebanon untuk mengambil jenazah para korban yang dibungkus kain hijau. Salah satu jenazah, yang ukurannya jauh lebih kecil dari yang lain, adalah cucunya, Taleen—adik Aline—yang belum genap berusia dua tahun.

Dengan perban di kepala dan tangan kanan serta luka gores di wajahnya, Nasser berduka dalam diam. Perempuan-perempuan di sekitarnya menengadah ke langit sambil menangis dan berteriak dalam kesedihan.

 

Taleen Lahir dan Tewas saat Perang

Data Kementerian Kesehatan Lebanon, per 4 April 2026, mencatat 1.368 warga sipil tewas dan 4.138 luka-luka akibat serangan udara Israel. Tampak dalam foto, sebuah ekskavator membersihkan puing-puing sementara seorang pria membawa barang-barang miliknya berjalan melewati reruntuhan di lokasi serangan Israel pada Minggu 5 April 2026 terhadap sebuah bangunan di lingkungan Jnah, Beirut, Lebanon, Senin 6 April 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Konflik terbaru di Lebanon dimulai pada 2 Maret, ketika kelompok bersenjata Hizbullah menembaki Israel sebagai bentuk dukungan kepada Iran. Sejak saat itu, Israel meningkatkan operasi militer udara dan daratnya di Lebanon, yang telah menewaskan lebih dari 2.000 orang, termasuk 165 anak-anak dan hampir 250 perempuan.

Rabu pekan lalu menjadi salah satu hari paling mematikan dalam sejarah terbaru Lebanon.

"Ini bukan kemanusiaan. Ini kejahatan perang," kata Nasser kepada Reuters di rumah sakit tempat ibu Aline, Ghinwa, masih menjalani perawatan.

"Di mana hak asasi manusia? Jika seorang anak—seorang anak—terluka di Israel, seluruh dunia bereaksi. Apakah kami bukan manusia? Apakah kami bukan seperti mereka?"

Menanggapi insiden tersebut, militer Israel menyatakan tengah menyelidiki laporan mengenai serangan di Srifa.

Taleen lahir pada 2024, di tengah putaran konflik sebelumnya antara Hizbullah dan Israel.

"Dia lahir di masa perang dan meninggal dalam perang," kata Mohammed Nazzal, ayah dari Ghinwa.

Sementara itu, serangan udara di Lebanon terus berlanjut. Iran menginginkan gencatan senjata di Lebanon sebagai bagian dari perundingan dengan AS, yang berakhir pada Minggu tanpa terobosan. Di sisi lain, Israel memilih melanjutkan pembicaraan melalui jalur terpisah dengan pejabat Lebanon.

Pengeboman hebat terus terjadi, dengan hampir 100 orang dilaporkan tewas pada Sabtu (11/4).

Dr Abbas Khattiyeh, kepala operasi darurat di Rumah Sakit Jabal Amel di Tyre, mengatakan bahwa serangan pekan lalu merupakan salah satu yang paling intens dalam beberapa tahun terakhir dan banyak pasien yang datang ke rumah sakit adalah anak-anak.

"Tantangan yang kami hadapi sekarang adalah banyaknya korban luka yang datang bersamaan, dalam rentang 30 menit hingga satu jam," imbuhnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya