Liputan6.com, Jakarta - Kasus dugaan manipulasi dokumentasi pekerjaan oleh petugas PPSU di Kelurahan Kalisari membuka tabir persoalan yang lebih dalam dari sekadar laporan yang dipoles agar terlihat selesai. Di tengah kemajuan teknologi, realitas kini tak lagi sekadar dilaporkan, tetapi juga bisa diproduksi melalui akal imitasi (AI).
Foto dan dokumentasi yang dulu menjadi bukti kerja kini bisa direkayasa dengan mudah, membuat batas antara kerja nyata dan sekadar tampilan semakin kabur, bahkan di level pelayanan publik yang paling dekat dengan masyarakat.
Advertisement
Di tengah permasalahan itu, muncul satu pertanyaan yang kini terasa semakin relevan: ketika teknologi bisa membuat pekerjaan 'terlihat selesai' tanpa benar-benar dikerjakan, siapa yang masih bertahan pada kerja nyata?
Di tengah polemik tersebut, sosok Muklisin hadir sebagai kontras. Melalui akun media sosialnya @skil_zona_sia_sia, ia rutin membagikan dokumentasi pekerjaan dalam format before-after lengkap dengan waktu dan lokasi. Bukan sekadar laporan, tetapi bukti nyata dari kerja fisik yang dilakukan setiap hari.
"Waktu ketemu Bapak Gubernur DKI Jakarta (Pramono Anung) membahas tentang kinerja dan memberikan apresiasi kepada saya serta dukungan, untuk selalu support kinerja PPSU, yang selalu menjaga amanah saat menjalankan tugas," ujar Muklisin (40), petugas PPSU wilayah Jakarta Utara yang dikenal konsisten menunjukkan kerja nyata di lapangan.
Bagi Muklisin, bekerja bukan hanya soal menyelesaikan laporan, tetapi tentang tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang merasakan langsung dampaknya.
Dari Keterbatasan Menuju Pengabdian
Perjalanan Muklisin menjadi petugas PPSU tidak dimulai dari pilihan yang mudah. Ia mengaku pekerjaan ini awalnya lahir dari keterbatasan.
"Sejak 2010, sewaktu di swasta dan diambil-alih ke Kecamatan pada 2015, lalu diserahkan ke Kelurahan 2016 untuk bergabung di PPSU, waktu berdiri nya PPSU tahun 2015 itu kekurangan orang, jadi dari Kecamatan bagian Pesada dan PHB di oper ke kelurahan sebagai PPSU," ujarnya saat dihubungi tim Liputan6.com, Minggu (12/4/2026).
Muklisin juga menyebut bahwa latar belakang pendidikan menjadi salah satu alasan dirinya memilih pekerjaan ini.
"Awal mula karena kendala ijazah, kerja ditempat lain tidak bisa mengunakan ijazah SD-SMP, jadi saya putuskan ikut kerja kebersihan di PPSU," katanya.
Dari keterbatasan itu, Muklisin justru menemukan makna pengabdian. Ia menjalani pekerjaan yang sering kali dipandang sebelah mata, namun memiliki dampak langsung bagi kehidupan warga.
Rutinitas Panjang yang Tak Terlihat
Bagi banyak orang, pekerjaan PPSU mungkin hanya terlihat sekilas petugas berseragam oranye yang membersihkan jalan atau mengangkut sampah. Namun di balik itu, ada kerja fisik yang berat dan konsistensi yang tidak sederhana.
Hari Muklisin dimulai saat sebagian besar warga masih terlelap. Rutinitasnya berjalan disiplin dari pagi hingga sore.
Ketika Pagi masih basah oleh sisa embun, derap langkah nya sebagai petugas PPSU mulai menyusuri jalanan permukiman di Jakarta Utara.
"Aktivitas saya dalam satu hari dimulai absen jam 5 pagi, start kerja jam 6 pagi membersihkan zona yang sudah di bagikan, jarak tempuhnya 1 Kilometer per satu orang, hingga diselesaikan jam 3 sore," ujarnya.
Setiap hari, ia menyusuri jalan, sapu lidi di tangan, karung di bahu, dirinya bekerja dalam diam, membersihkan selokan, mengangkat sampah, merapikan lingkungan yang sering luput dari perhatian. Pekerjaan fisik yang melelahkan itu dilakukan tanpa banyak sorotan.
Namun di balik kelelahan, ada kepuasan tersendiri ketika hasil kerja bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
"Senang, bisa membantu warga untuk membersihkan lingkungan," katanya.
Antara Hasil Kerja dan Laporan
Di tengah sistem kerja yang semakin berbasis laporan, Muklisin menegaskan bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan.
"Hasil kerja dan laporan kerja karena kedua hal tersebut merupakan tanggung jawab dari pekerjaan saya," ujarnya.
Namun baginya, laporan bukan sekadar formalitas. Ia memastikan bahwa setiap dokumentasi yang dibuat benar-benar mencerminkan kondisi di lapangan.
Sikap ini menjadi penting di tengah maraknya praktik manipulasi dokumentasi, termasuk dengan bantuan teknologi seperti AI.
"Kecewa, sangat mencoreng, karena pekerjaan PPSU itu tidak semuanya buruk," katanya saat menanggapi kasus manipulasi tersebut.
Menurutnya, praktik seperti itu justru merusak kepercayaan terhadap profesi PPSU secara keseluruhan.
Kejujuran di Tengah Ketidakpercayaan
Menjaga kejujuran dalam bekerja bukan hal yang mudah, terutama ketika sistem menuntut kecepatan dan kelengkapan laporan. Muklisin mengaku tantangan terbesar bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga menghadapi persepsi publik.
"Tantangan terbesar nya, sebagian orang-orang tidak percaya apa yang saya kerjakan di lapangan," ujarnya.
Meski demikian, ia tetap memilih untuk berpegang pada prinsip. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral yang tidak bisa digantikan oleh teknologi apa pun.
"Bertanggungjawab dalam bekerja," katanya singkat.
Bagi Muklisin, tanggung jawab tidak hanya kepada atasan, tetapi juga kepada masyarakat.
"Kepada semuanya, laporan, atasan dan warga," ujarnya.
Lelah yang Tak Pernah Dikeluhkan
Pekerjaan sebagai PPSU bukan hanya menguras tenaga, tetapi juga mental. Namun Muklisin mengaku tidak pernah merasa terbebani secara berlebihan.
"Selama ini belum pernah saya rasakan hal itu, karena saya rasa ini merupakan tanggung jawab yang harus saya jalankan," katanya.
Meski demikian, ia tidak menampik bahwa ada momen ketika kerja kerasnya terasa kurang dihargai.
"Pastinya kecewa, karena kerja sudah capek-capek, tapi tidak di hargai," ujarnya.
Namun rasa kecewa itu tidak membuatnya berhenti. Ia tetap menjalankan tugas dengan konsisten, hari demi hari.
Di tengah dinamika pekerjaan yang semakin kompleks, Muklisin berharap sistem kerja PPSU ke depan bisa lebih menghargai kerja nyata.
"Harapannya harus di tingkatkan kinerja nya dan selalu semangat menjaga kinerja yang jujur," ujarnya.
Ia juga menyampaikan pesan sederhana kepada rekan-rekannya.
"Pesan saya selalu semangat, jujur, ikhlas, sabar dan tekun," katanya.
Bagi masyarakat, ia berharap ada kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.
"Selalu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang kebersihan lingkungan agar saling menjaga kebersihan bersama-sama," ujarnya.