Daftar Empat Daerah di Sulsel Berstatus KLB Campak, Kasus Positif Terkonfirmasi Tembus Ratusan

Sejumlah upaya penanganan dilakukan Dinkes Sulsel untuk mencegah merebaknya campak di masyarakat. Salah satunya menggencarkan imunisasi massal.

oleh FauzanDiterbitkan 10 April 2026, 17:09 WIB
Kadinkes Sulsel, Evi Mustikawati Arifin, bicara soal campak (Foto: Fauzan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Kasus campak di Sulawesi Selatan kian mengkhawatirkan. Pemerintah Provinsi Sulsel bahkan telah menetapkan empat daerah sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB), menyusul lonjakan kasus dalam beberapa waktu terakhir.

Kepala Dinas Kesehatan Pemprov Sulsel, Evi Mustikawati Arifin membenarkan hal tersebu. Dia menjelaskan wilayah yang terdampak KLB tersebar di beberapa kabupaten/kota.

"Di Sulawesi Selatan saat ini sudah ada empat daerah yang ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, yaitu Sinjai, Makassar, Luwu, dan Wajo," kata Evi saat diwawancarai, Jumat (10/4/2026).

Tak hanya itu, jumlah kasus yang ditemukan juga cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, ribuan kasus telah diperiksa untuk memastikan penyebaran penyakit tersebut. Dari ribuan yang telah diperiksa itu, 169 di antaranya dipastikan positif campak.

"Total yang sudah diperiksa itu 1.304 kasus, dan yang positif 169 kasus," ungkapnya.

Dari hasil penyelidikan epidemiologi, rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama melonjaknya kasus campak di Sulsel. Kondisi ini memperlihatkan masih banyak anak yang belum mendapatkan perlindungan dasar dari penyakit menular tersebut.

"Dari hasil penyelidikan di lapangan, salah satu faktor utama adalah sekitar 69 persen kasus terjadi karena tidak dilakukan imunisasi campak," jelas Evi.

 

Gencarkan Imunisasi Massal

Merespons situasi ini, pemerintah provinsi langsung mengambil sejumlah langkah penanganan, mulai dari kebijakan hingga intervensi langsung di lapangan untuk menekan penyebaran.

"Yang pertama yaitu kita sudah mengikuti surat edaran pemerintah tentang kewaspadaan kejadian luar biasa campak. Yang kedua, Pemprov sendiri juga sudah mengeluarkan surat edaran tentang kewaspadaan dan penanggulangan campak," tuturnya.

Selain itu, upaya imunisasi massal juga digencarkan di wilayah yang terdampak maupun yang berisiko tinggi.

"Kemudian juga kita telah melakukan Outbreak Response Immunization pada daerah yang diduga atau yang terhubung dengan kejadian KLB tersebut," tambahnya .

Di sisi lain, penguatan sistem pelacakan kasus juga menjadi fokus penting. Setiap temuan kasus suspek langsung ditindaklanjuti oleh petugas kesehatan di lapangan.

"Kalau ada satu kasus suspek campak terdeteksi, maka akan dilaporkan di satu aplikasi dan ini akan muncul sebagai peringatan yang akan diverifikasi di lapangan oleh petugas puskesmas," jelasnya.

Proses penelusuran itu pun dilakukan secara aktif untuk mencegah penyebaran lebih luas. "Petugas kemudian melakukan tracing untuk mencari kontak dengan jalan door to door," lanjutnya.

Meski telah berstatus KLB, Dinas Kesehatan memastikan penanganan masih dalam kendali tanpa perlu penambahan tenaga kesehatan maupun posko khusus.

"Walaupun di empat kabupaten sudah dinyatakan KLB, tapi sampai saat ini kita belum ada penambahan tenaga ataupun posko karena Alhamdulillah selama ini sudah berjalan dengan baik dan dapat kita tangani," ujarnya.

Terkait pemeriksaan, Evi menegaskan tidak semua kasus langsung diuji di laboratorium. Pemeriksaan dilakukan berdasarkan gejala klinis tertentu.

"Tidak semua yang suspek itu kita periksa di laboratorium, tetapi harus memenuhi beberapa kriteria, seperti batuk, hidung berair atau korisa, dan konjungtivitis yaitu kemerahan pada mata," terangnya.

 

Masyarakat Diminta Waspada

 

Di tengah situasi ini, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam melindungi anak-anak dari paparan campak.

"Karena penyebab utamanya 69 persen karena tidak dilakukan imunisasi, kita mengajak seluruh orang tua untuk melakukan imunisasi pada anak-anak," imbaunya.

Selain itu, langkah pencegahan sederhana juga dinilai penting untuk memutus rantai penularan. Evi juga menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan etika saat sakit.

"Kemudian kita menghindari kontak dengan penderita campak, terutama bayi dan anak-anak yang belum diimunisasi,” katanya. Selain itu, kita terapkan pola hidup bersih seperti cuci tangan menggunakan sabun, gunakan masker bagi yang sedang batuk,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan agar anak yang sedang sakit tidak dipaksakan beraktivitas di luar rumah. Lalu masyarakat juga diminta tidak mengabaikan gejala awal yang muncul.

"Anak yang sakit juga kita sarankan untuk tidak masuk sekolah dulu sampai sembuh. Kalau ada gejala seperti ruam atau kondisi kesehatan menurun, segera periksakan diri," tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya