Liputan6.com, Jakarta - PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA) resmi mencatatkan saham perdananya di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai emiten pertama pada 2026. Direktur Utama PT BSA Logistics Indonesia Tbk, Edwin Wibowo, mengaku tidak menyangka sambutan positif yang begitu besar dari investor dengan tingkat kelebihan permintaan (oversubscribed) mendekati 400 kali.
"PT BSA Logistik Indonesia sebagai emiten yang pertama melantai di Bursa Efek Indonesia di tahun 2026. Jujur saya sendiri juga tidak menyangka antusias pasar yang sangat positif terhadap penawaran saham kami dengan oversubscribe mencapai hampir 400 kali,” kata Edwin saat pencatatan saham WBSA, di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (10/4/2026).
Advertisement
Dia menuturkan, hal ini menjadi kehormatan sekaligus amanah besar bagi perseroan untuk terus berkontribusi dalam sektor logistik nasional.
"Suatu kehormatan bagi saya pada hari ini berdiri di depan Anda sekalian, mewakili PT BSA Logistik Indonesia sebagai emiten yang pertama melantai di Bursa Efek Indonesia di tahun 2026,” ujarnya.
Edwin menjelaskan, alasan pertama yang membuat WBSA menarik adalah peran strategis sektor logistik dalam rantai pasok global. Di tengah dinamika geopolitik dunia, gangguan logistik di satu titik dapat berdampak luas secara global.
Ia mencontohkan, penutupan jalur penting seperti Selat Hormuz dapat memicu lonjakan harga energi di berbagai negara. Hal ini menunjukkan bahwa logistik bukan sekadar aktivitas distribusi, melainkan roda penggerak utama ekonomi dunia.
"Logistik berperan penting dalam supply chain global. Seperti yang kita tahu baru-baru ini terjadi dinamika geopolitik di berbagai belahan dunia. Gangguan logistik di satu tempat dapat menjadi efek domino secara global. Ibarat rantai yang satu saja mata rantainya terputus,” ujarnya.
Indonesia Punya Peluang Besar di Supply Chain Global
Alasan kedua, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam rantai pasok global. Di tengah krisis energi dan kebutuhan komoditas dunia, Indonesia yang kaya sumber daya alam memiliki posisi strategis.
Namun demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah konektivitas logistik, mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lebih dari 17 ribu pulau.
"Di saat sekarang ini dalam kondisi krisis energi dunia, Indonesia yang kaya akan natural resource dan komoditas memiliki peluang emas untuk menjadi peran penting dalam supply chain global,” ujarnya.
WBSA Jadi Engine of Growth Lewat Konektivitas
Alasan ketiga, WBSA hadir sebagai “engine for growth” melalui layanan logistik terintegrasi. Perseroan tidak hanya membangun jaringan distribusi, tetapi juga menciptakan konektivitas yang menghubungkan kebutuhan dengan solusi serta potensi dengan peluang.
Edwin menekankan, WBSA ingin mengubah paradigma logistik dari sekadar biaya menjadi keunggulan kompetitif yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
"Dari awal kami membangun WBSA bukan hanya sekedar jaringan logistik, kami membangun konektivitas. Konektivitas yang menghubungkan kebutuhan dengan solusi, potensi dengan peluang, dengan aspirasi mentransformasi fungsi logistik yang selama ini hanya dipandang sebagai biaya, menjadi competitive advantage untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia,” pungkasnya.