Rupiah Dibuka Menguat, Tapi Belum Beranjak dari 17.000 per USD

Rupiah masih berada dalam tekanan akibat ketidakpastian potensi gencatan senjata di Timur Tengah.

oleh Septian DenyDiterbitkan 10 April 2026, 11:00 WIB
Teler menunjukan mata uang rupiah di Jakarta, Jumat (3/3/2023). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ditutup melemah ke level Rp15.311 pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah ditutup melemah 0,20 persen atau turun 30,5 poin ke Rp15.311 per dolar AS. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah menguat 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp17.083 per dolar AS pada hari ini pada Jumat 10 April 2026, dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.090 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memperkirakan rupiah masih berada dalam tekanan akibat ketidakpastian potensi gencatan senjata di Timur Tengah.

“Ketegangan meningkat setelah Iran kembali memberlakukan blokade Selat Hormuz, di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di Lebanon,” ucapnya dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2026).

Menurut Josua Pardede, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan di Timur Tengah seiring gencatan senjata yang baru diumumkan AS-Iran terlihat masih rapuh menjelang perundingan damai yang dijadwalkan pada hari ini di Pakistan. Hal ini disebabkan Zionis Israel yang melakukan serangan besar-besar di Lebanon, hingga menyebabkan 250 orang gugur dan ribuan orang luka-luka.

 

Perkembangan ini dinilai memicu kekhawatiran baru terhadap kemajuan negosiasi AS–Iran, yang mendorong kenaikan harga minyak global dan memperkuat sentimen risk-off.

Sentimen lain berasal dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Maret 2026 menunjukkan sejumlah pejabat The Fed mulai membuka pendekatan “dua arah” dalam penentuan suku bunga kebijakan ke depan.

 

Kenaikan Suku Bunga

Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Penekanannya terhadap kenaikan suku bunga lanjutan masih mungkin diperlukan apabila inflasi tetap berada di atas target.

Mayoritas anggota FOMC menilai risiko kenaikan inflasi dan penurunan ketenagakerjaan berada pada level tinggi dengan banyak yang mencatat risiko tersebut meningkat di tengah perkembangan di Timur Tengah.

“Konflik yang berkepanjangan di kawasan tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga energi yang lebih persisten, dengan peningkatan biaya input yang dapat menekan inflasi inti,” ungkap Josua.

Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diperkirakan berkisar Rp17 ribu-Rp17.125 per dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya