Liputan6.com, Teheran - Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa Teheran tidak menginginkan konflik bersenjata dengan Amerika Serikat maupun Israel, namun tetap berkomitmen mempertahankan hak-haknya sebagai sebuah negara.
Dalam pesan tertulis yang disiarkan televisi pemerintah pada Kamis, Khamenei menyampaikan pernyataan tersebut bertepatan dengan 40 hari wafatnya ayahnya, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas pada 28 Februari—hari pertama pecahnya perang.
Advertisement
“Kami tidak mencari perang dan tidak menginginkannya,” ujar Khamenei dalam pesan tersebut, dikutip dari laman Al Arabiya, Jumat (10/4/2026).
Meski demikian, ia menegaskan Iran tidak akan mengorbankan hak-hak nasionalnya dalam kondisi apa pun. Ia juga menyinggung konsep “front perlawanan” sebagai satu kesatuan, yang diyakini merujuk pada sekutu-sekutu Iran di kawasan, termasuk kelompok Hezbollah di Lebanon yang tengah terlibat konflik dengan Israel.
Pernyataan ini muncul di tengah perkembangan diplomatik terbaru, setelah Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan dengan Amerika Serikat. Kesepakatan tersebut dinilai masih rapuh, namun membuka peluang menuju perundingan damai yang lebih luas, menyusul ancaman keras dari Presiden AS Donald Trump sebelumnya.
Kepada publik Iran, Khamenei juga mengingatkan bahwa partisipasi masyarakat tetap krusial, meski gencatan senjata telah diumumkan.
Ia menegaskan bahwa suara publik di ruang terbuka dapat memengaruhi jalannya negosiasi yang tengah berlangsung.
Selain itu, Khamenei memperingatkan warga agar berhati-hati terhadap informasi yang berasal dari media yang disebutnya didukung oleh pihak musuh, seraya mendorong masyarakat untuk tetap waspada di tengah situasi yang masih dinamis.