Liputan6.com, Beirut - Sedikitnya 17 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka dalam insiden penembakan sebuah bus yang membawa warga Palestina di Beirut pada 13 April 1975—peristiwa yang kemudian dikenal sebagai salah satu pemicu awal Perang Saudara Lebanon.
Menurut laporan yang beredar saat itu, serangan dilakukan oleh milisi sayap kanan Phalangis Lebanon di kawasan Ayn al-Rummanah, wilayah pinggiran Beirut yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Bus tersebut dihujani tembakan saat melintas di dekat sebuah gereja, menewaskan sedikitnya 14 orang dan melukai sekitar 20 lainnya—sebagian besar merupakan warga Palestina.
Advertisement
Insiden ini dipicu oleh rangkaian ketegangan yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Sekelompok gerilyawan Palestina dilaporkan melepaskan tembakan dari kendaraan jip ke arah jemaat di luar gereja Maronit yang tengah menggelar misa. Saat itu, pemimpin Phalangis, Pierre Gemayel, berada di lokasi.
Bentrok pun tak terhindarkan setelah pendukung Phalangis merebut salah satu kendaraan tersebut. Situasi semakin memanas ketika bus yang membawa warga Palestina melintas di lokasi, dan langsung menjadi sasaran tembakan, dikutip dari laman BBC, Senin (13/4/2026).
Ketegangan politik dan sektarian yang telah lama membara di Lebanon menjadi latar belakang peristiwa ini. Komunitas Kristen Maronit, yang selama ini mendominasi politik sejak pembentukan Lebanon modern pada 1920, menghadapi tekanan dari kelompok Muslim yang merasa kurang terwakili secara politik.
Situasi diperparah dengan kehadiran pengungsi Palestina dalam jumlah besar, yang membangun basis kekuatan di Lebanon di bawah kepemimpinan Yasser Arafat.
Selain itu, laporan juga menyebut adanya upaya penculikan terhadap Amin Gemayel, putra Pierre Gemayel, yang semakin memperkeruh situasi.
Peristiwa penembakan bus ini menjadi titik balik penting yang memicu konflik berkepanjangan di Lebanon, yang kemudian berkembang menjadi perang saudara selama 15 tahun dengan dampak kemanusiaan yang luas di kawasan Timur Tengah.