Makam Kucing di Sudut Senayan, Jejak Kepedulian Penyayang Hewan

Bagi sebagian warga, deretan gundukan tanah kecil di sudut taman Jalan Senayan menyimpan kisah tak biasa, makam kucing yang dikelola dengan penuh ketulusan.

oleh Shabina Nasywa MuftiDiterbitkan 09 April 2026, 06:55 WIB
Bagi sebagian warga, deretan gundukan tanah kecil di sudut taman Jalan Senayan menyimpan kisah tak biasa, makam kucing yang dikelola dengan penuh ketulusan. (Liputan6.com/Shabina Nasywa Mufti)

Liputan6.com, Jakarta - Pemandangan deretan gundukan tanah kecil di sudut taman Jalan Senayan, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, tampak sederhana. Namun bagi sebagian warga, tempat itu menyimpan kisah yang tak biasa, sebuah makam kucing yang dikelola dengan penuh ketulusan.

Nama Teguh kerap disebut sebagai sosok di balik perawatan makam tersebut. Warga sekitar memanggilnya dengan sapaan akrab, mulai dari "Mas" hingga "Abah".

Ia dikenal sebagai pribadi yang penyayang terhadap hewan, terutama kucing. Baginya, kucing bukan sekadar hewan liar, melainkan makhluk ciptaan Tuhan yang juga layak diperlakukan dengan baik.

Sehari-hari, Teguh bekerja di sebuah rumah kos yang tak jauh dari lokasi taman. Di sela aktivitasnya, ia rutin memberi makan kucing-kucing yang berada di sekitar kos tersebut, pagi dan malam hari. Perhatian itu tidak berhenti pada kucing yang masih hidup, tetapi juga berlanjut hingga hewan-hewan itu mati.

Tak ada yang benar-benar tahu sejak kapan makam kucing itu mulai ada. Bagi sebagian warga, keberadaannya terasa sudah sangat lama. Ada yang menyebut baru sekitar setengah tahun, namun tak sedikit pula yang percaya makam itu telah ada sejak puluhan tahun lalu.

Bagi sebagian warga, deretan gundukan tanah kecil di sudut taman Jalan Senayan menyimpan kisah tak biasa, makam kucing yang dikelola dengan penuh ketulusan. (Liputan6.com/Shabina Nasywa Mufti)

Meski waktu pastinya tak jelas, satu hal yang pasti: makam-makam itu tetap dirawat. Setiap beberapa hari sekali, Teguh datang untuk merapikan dan meninggikan gundukan tanah agar tetap terlihat jelas, terutama setelah diguyur hujan.

Ayub (21), rekan kerja Teguh, mengaku sering diminta membantu pekerjaan tersebut. Baginya, apa yang dilakukan Teguh bukan hal mudah, apalagi jika harus dilakukan sendiri.

“Seminggu dua kali ditinggiin, biar kelihatan. Ini karena hujan jadi nggak kelihatan. Kadang disuruh bantu ninggiin, karena kalau beliau sendiri dan tanahnya keras, susah. Dulu sih sempat ada papan-papannya, cuman sekarang udah nggak boleh,” ucapnya saat ditemui Liputan6.com di lokasi, Kamis (8/4/2026).

Namun seiring waktu, ruang di taman itu semakin terbatas. Gundukan-gundukan kecil kini hampir memenuhi seluruh area yang tersedia. Bahkan, menurut Ayub, makam tersebut sudah tidak lagi bisa menerima "penghuni" baru.

“Makam sudah penuh, sudah nggak nerima dan jarang juga yang kirim kesini. Terakhir terima sih minggu lalu,” tambahnya.

Makam Kucing Tak Ganggu Warga

Bagi sebagian warga, deretan gundukan tanah kecil di sudut taman Jalan Senayan menyimpan kisah tak biasa, makam kucing yang dikelola dengan penuh ketulusan. (Liputan6.com/Shabina Nasywa Mufti)

Kepedulian Teguh terhadap kucing juga diingat oleh warga sekitar. Supandi (66), salah satu warga, menyebut Teguh tak pernah setengah-setengah dalam merawat kucing liar di lingkungan tersebut.

“Mas Teguh mah nggak tanggung-tanggung ngasih makannya. Pakai makanan kucing yang basah, sampai ke pelet-pelet yang kering itu. Kalau ada yang sakit juga langsung dibawa ke sana, diurusin,” ucap Supandi.

Bagi warga lain, keberadaan makam kucing ini bukanlah sesuatu yang mengganggu. Justru sebaliknya, ada yang melihatnya sebagai hal unik di tengah hiruk-pikuk kota.

Nanang Qosim (49), pedagang roti di Jalan Senayan, menilai makam tersebut tidak menimbulkan masalah bagi aktivitas sehari-hari warga.

“Padahal mah kenapa nggak boleh ya? nggak ganggu aktivitas sama sekali, malah unik kalau kata saya mah, soalnya jarang,” ucap Nanang.

Di tengah padatnya kota, makam kucing itu menjadi penanda sederhana tentang kepedulian, bahwa bahkan makhluk kecil yang kerap terabaikan pun masih memiliki tempat untuk dikenang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya