11 April 1996: Serangan Israel ke Beirut Picu Eskalasi Konflik di Lebanon

Apa yang menjadi dasar serangan Israel ke Beirut?

oleh Erin Rahayu PutriDiterbitkan 11 April 2026, 06:00 WIB
Pemerintah Lebanon menyatakan jumlah warga yang mengungsi telah melampaui 1,16 juta orang. Tampak dalam foto, sebuah ekskavator mengangkat mobil yang rusak dari reruntuhan sementara orang-orang berkumpul di lokasi serangan Israel pada Minggu 5 April 2026 terhadap sebuah bangunan di lingkungan Jnah, Beirut, Lebanon, Senin 6 April 2026. (AP Photo/Hassan Ammar)

Liputan6.com, Beirut - Pada 11 April 1996, Israel kembali menjadi sorotan internasional setelah melancarkan serangan udara ke ibu kota Lebanon, Beirut, yang memicu peningkatan ketegangan di kawasan Timur Tengah. Serangan ini merupakan bagian dari operasi militer besar yang menargetkan posisi Hezbollah di berbagai wilayah Lebanon.

Pesawat tempur dan helikopter Israel menggempur sejumlah target di Beirut—serangan pertama ke ibu kota tersebut dalam hampir 14 tahun. Selain Beirut, serangan juga menyasar wilayah Lembah Beka'a, kawasan selatan Lebanon seperti Iklim al-Tuffah, serta jalur pesisir antara Sidon dan Tyre.

Sedikitnya lima orang dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya luka-luka akibat serangan tersebut. Israel menyebut operasi ini sebagai respons atas serangan roket yang diluncurkan dua hari sebelumnya ke permukiman di wilayah utara negara itu, dikutip dari BBC, Sabtu (11/4/2026).

Juru bicara pemerintah Israel saat itu, Uri Dromi, menegaskan bahwa militer akan terus memburu Hizbullah.

“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa tindakan ini akan sangat mahal dan menyakitkan bagi siapa pun yang terlibat,” ujarnya.

Dalam beberapa pekan sebelumnya, Hizbullah telah melancarkan sejumlah serangan yang menewaskan tujuh tentara Israel dan tiga warga sipil Lebanon. Kelompok tersebut mengklaim serangan itu sebagai balasan atas operasi militer Israel yang mereka tuduh telah menewaskan seorang anak di Lebanon selatan.

Serangan ke Beirut juga terjadi di tengah dinamika politik domestik Israel. Perdana Menteri saat itu, Shimon Peres, menghadapi tekanan menjelang pemilihan umum dan dinilai perlu menunjukkan sikap tegas terhadap ancaman keamanan.

Di Beirut, kepanikan melanda warga sipil. Lalu lintas kacau, sirene meraung, dan rumah sakit dipenuhi korban. Seorang korban luka menggambarkan momen serangan sebagai “kilatan cahaya” sebelum dirinya tersadar dalam kondisi berlumuran darah.

Meski Israel menyatakan target serangan adalah markas operasional utama Hizbullah, laporan lanjutan menyebut bangunan yang dimaksud tidak mengalami kerusakan signifikan. Serangan ini juga dipandang sebagai sinyal tekanan terhadap Suriah, yang saat itu memiliki pengaruh militer besar di Lebanon.

Dampaknya meluas ke ranah diplomatik. Operasi militer tersebut berpotensi menghambat proses perdamaian Timur Tengah, khususnya negosiasi antara Israel dan Suriah. Israel menilai Suriah turut bertanggung jawab karena membiarkan Hizbullah terus melancarkan serangan roket.

Sementara itu, Amerika Serikat menyerukan penahanan diri, namun tidak secara langsung mengutuk tindakan Israel. Menteri Luar Negeri AS saat itu, Warren Christopher, menyatakan bahwa eskalasi dipicu oleh serangan roket Hizbullah ke wilayah utara Israel.

Peristiwa ini menjadi salah satu titik penting dalam dinamika konflik Lebanon-Israel pada 1990-an, sekaligus memperlihatkan rapuhnya stabilitas kawasan di tengah tarik-menarik kepentingan regional dan internasional.   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya