Penyebab Muncul Jerawat Beragam, Mulai dari Hormon hingga Stres

Penyebab jerawat pada perempuan paling banyak akibat hormonal. Begini penjelasannya.

oleh Arie NugrahaDiterbitkan 06 April 2026, 18:00 WIB
Ilustrasi wajah berjerawat. (dok. unsplash/@audreyjackson)

Liputan6.com, Bandung - Acne vulgaris atau jerawat adalah satu bentuk kelainan kulit kronis yang disebabkan adanya kelainan pada kelenjar pilosebaceous yang terdapat di dalam lapisan kulit. Menurut dokter Agustina Irene Usmany, SpDVE, penyebab jerawat muncul ada banyak faktor.

"Mulai dari genetik kemudian ada faktor hormonal, ada faktor stres, penggunaan kosmetik yang tidak tepat atau ada juga lingkungan yang mungkin kotor atau lingkungan yang terlalu lembab," ujar Irene dicuplik dari program edukasi kesehatan Rumah Sakit Santo Yusup Bandung, ditulis Senin (6/4/2026).

Faktor lainnya pemicu terjadi jerawat adalah seringnya mengalami tekanan-tekanan seperti disentuh atau gesekan pada kulit. Pada perempuan selain beberapa penyebab yang telah disebut Irene, paling banyak akibat pengaruh hormonal.

Contohnya biasanya terjadi pada siklus menstruasi. Jerawat muncul saat sebelum atau sesudah menstruasi, terkadang kadang pada perempuan saat perubahan hormon itu akan mempengaruhi pertumbuhannya.

"Jadi selain dari faktor-faktor yang tadi saya sebutkan, jerawat akan lebih sering timbul sebelum dan sesudah menstruasi karena pengaruh hormonal," tegas Irene.

Irene mengatakan kondisi stres seseorang bisa memicu timbulnya jerawat. Biasanya saat stres melanda biasa akan berpengaruh kepada hormonal dari pasien.

Dengan naik turunnya kadar hormon, produksi minyak alami yang dihasilkan oleh kelenjar sebaceous di bawah kulit (sebum) dapat meningkat juga.

"Itu yang akan mempengaruhi ke jerawatnya. Jadi stres bisa mempengaruhi timbulnya jerawat," ungkap Irene.

 

Bentuk Jerawat

Foto: Freepik

Irene menerangkan jerawat memiliki ragam bentuk mulai dari bentuk yang tidak ada peradangan yang biasanya bentuknya komedo.

Komedo itu pun ada dua yakni komedo yang hitam dan yang putih. Pada dasarnya jerawat berjenis komedo ini lebih mengarah seperti sumbatan di permukaan kulit.

"Bentuk yang lainnya ada yang kemerahan, cuma bruntus saja, ada juga yang bentuknya sampai ada nanahnya atau kita bilang pustula. Sampai yang gede nodul ataupun kista, jadi bentuk jerawat itu macam-macam," ungkap Irene.

 

Penyebab Jerawat Susah Sembuh

Irene menerangkan jerawat yang susah sembuh atau yang tidak kunjung sembuh, penyebabnya sebagian besar karena perawatan dan pengobatan yang tidak tepat.

Seperti tidak tepat dalam perawatan harian semisal penggunaan sabun cuci muka dan cream harian yang dipakai. Ada pula yang kondisinya berjerawat tapi masih memakai pelembap yang tidak tepat. "Pelembap yang bukan khusus jerawat jadi kadang-kadang itu mempengaruhi juga," terang Irene.

Irene membeberkan untuk segi pengobatan, kadang tidak semua kasus jerawat dapat diobati dengan produk yang dapat dijual bebas. Namun ada pula yang harus ditangani lebih intens ke dokter spesialis.

Sehingga harus ada racikan khusus dari dokter untuk obat antibiotik yang harus diminum. Sehingga pengobatan yang tidak tepat juga akan mempengaruhi penyembuhannya.

"Untuk perawatan kecantikan kalau masih berjerawat, kalau saya sendiri sih saya biasa enggak saranin. Karena kan perawatan kecantikan itu macam-macam ya dari mulai facial atau tindakan. Ada tindakan yang memang membantu untuk penyembuhan jerawat, ada juga malah yang bisa memperberat," kata Irene.

Irene menyebut jika kondisi jerawatnya masih akut atau masih peradangan seperti kondisinya masih kemerahan, disarankan untuk dilakukan pengobatan terlebih dulu sebelum menjalani perawatan kecantikan.

Berbagai tindakan pengobatan dapat dilakukan oleh pasien berjerawat dengan berkonsultasi dengan dokter spesialis dermatologi dan venereologi .

"Saya sarankan diobatin dulu dengan cream-cream harian yang tepat. Mungkin perlu ada obat minum yang ditambah atau bisa juga sih ada tindakan, misalnya untuk mengurangi peradangan dengan blue light terapi seperti gitu," ungkap Irene.

Tetapi untuk facial dan tindakan peeling atau yang lainnya, Irene menganggap kemungkinan belum perlu dilakukan namun memang harus dilihat kondisinya terlebih dahulu.

 

Perawatan Harian dan Perlakuan Terhadap Jerawat

Perawatan harian untuk kulit yang berjerawat dapat dilakukan dengan menggunakan sabun cuci muka dan cream pagi. Untuk yang kerap berkegiatan di alam terbuka disarankan memakai sunscreen, cream malamnya ada yang totol jerawatnya.

"Kalau untuk perawatan yang lainnya tadi, kita sesuaikan sih harus dilihat kondisi pasiennya," sebut Irene.

Irene menyayangkan masih banyak pasien yang memencet jerawat. Sebisa mungkin tidak disarankan memencet jerawat karena biasanya nanti malah memperberat bekas keberadaannya.

Hal itu berlaku sebaliknya, jika keberadaan jerawat dilakukan pengobatan maka bisa hilang tanpa bekas. Bekas jerawat usai dilakukan pengobatan biasanya berwarna coklat atau kemerahan.

"Tapi kalau dengan dipencet-pencet, kadang-kadang malah jadi ada bentuk jerawat yang lebih berat misalnya terjadi scars. Scars itu yang bopeng-bopeng atau bekas kehitamannya malah jadi jauh lebih lama. Jadi sarannya sih jangan dipencet-pencet kalau ada jerawat," sebut Irene.

Untuk jerawat yang membatu, Irene mengatakan perawatannya tidak cukup dengan penggunaan berbagai macam cream.

Perawatannya harus ditambahkan seperti antibiotik, suplemen, blue light terapi dan tindakan yang membantu mengurangi peradangan. Irene menyarankan tidak membiarkan jerawat membatu tanpa pengobatan.

"Untuk jerawat yang sudah sampai tahap scars atau sudah tinggal bekas yang bopeng-bopeng itu, tindakan yang diperlukan harus lebih intens. Jadi bukan cuma tindakan peeling, bukan cuma tindakan perawatan harian tadi," jelas Irene.

Bahkan tahapan perawatannya lanjut Irene, terkadang harus melakukan mikrodermabrasi atau tindakan yang lebih dalam lagi seperti penggunaan laser juga bisa tindakan lebih dalam lagi

Rekomendasi

POPULER

    Berita Terkini Selengkapnya