Liputan6.com, Teheran - Seorang warga Teheran bernama Abbas, yang sebelumnya bersimpati pada gerakan oposisi, kini mengaku siap membela negaranya di tengah perang melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Perubahan sikap ini mencerminkan pergeseran sentimen di kalangan warga Iran sejak konflik pecah pada akhir Februari.
Abbas, seorang ekonom lulusan Inggris berusia 40-an, sempat menyaksikan langsung gelombang protes anti-pemerintah pada Januari lalu di Teheran. Meski tidak ikut turun ke jalan, ia mendukung semangat perlawanan terhadap rezim yang dipimpin Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Advertisement
Dalam salah satu insiden, Abbas membantu menyelamatkan kerabatnya yang mengalami luka parah akibat bentrokan dengan aparat keamanan. Peristiwa itu sempat memicu kemarahan besar dan membuatnya terbuka terhadap kemungkinan perubahan rezim, bahkan jika didukung oleh kekuatan asing.
Namun, sikap tersebut berubah drastis sejak pecahnya perang pada 28 Februari. Abbas, yang enggan menyebutkan nama lengkapnya demi keamanan, mengatakan serangan udara yang menghantam wilayah sipil telah mengubah pandangannya, dikutip dari Straits Times, Senin (6/4/2026).
“Mereka membom rumah sakit dan sekolah. Mereka menyerang permukiman,” ujarnya dalam wawancara dengan The Straits Times, yang dilakukan melalui aplikasi pesan menggunakan jaringan virtual privat (VPN).
Menurut Abbas, gelombang protes kini mereda, tergantikan oleh mobilisasi publik untuk mendukung negara menghadapi ancaman eksternal.
Di berbagai kota dan desa, pendukung pemerintah turun ke jalan dalam aksi solidaritas. Mereka berkumpul di alun-alun, mengepalkan tangan sebagai simbol perlawanan di tengah suara serangan udara dan lalu lalang jet tempur.
Pemerintah Iran, yang kini disebut dipimpin oleh Mojtaba Khamenei, juga dilaporkan meningkatkan upaya mobilisasi, termasuk merekrut relawan muda untuk mendukung logistik perang.
Perubahan sikap tidak hanya terjadi pada Abbas. Sejumlah warga yang sebelumnya kritis terhadap pemerintah kini memilih menunda perbedaan demi menghadapi musuh bersama. Kondisi ini dinilai dapat mempersulit upaya Amerika Serikat dan Israel untuk mendorong pemberontakan internal.
“Banyak orang yang sebelumnya tidak bersimpati pada pemerintah kini justru berpihak pada republik Islam dan menghargai peran militer dalam menjaga kedaulatan,” ujar seorang pejabat internasional yang tinggal di Teheran.
Meski demikian, tidak semua warga mendukung perang. Niki, perempuan berusia 20-an yang sempat ikut demonstrasi, mengaku kini diliputi kebingungan.
“Saat ini orang-orang tidak mendukung perang. Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi,” katanya.
Sejumlah warga Iran menilai serangan terhadap infrastruktur sipil—termasuk sekolah, universitas, serta fasilitas energi—menjadi faktor utama perubahan persepsi terhadap konflik.
Jajak Pendapat
Di kalangan diaspora Iran, dukungan terhadap perang juga mulai melemah. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas kini menolak konflik yang berlarut-larut.
Sutradara Iran-Amerika, Keon Reza Sheikhvand, mengaku sempat mendukung serangan di awal konflik. Namun, ia kini berubah sikap.
“Ada harapan akan perubahan. Tapi itu tidak terjadi. Terlalu banyak korban berjatuhan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan pengacara Jerman-Iran, Bijan Tavassoli, yang menyebut ekspektasi akan transisi damai tidak pernah terwujud.
“Orang-orang percaya akan ada perubahan tanpa kekerasan. Tapi kenyataannya, terlalu banyak yang meninggal,” katanya.
Perubahan sikap warga ini menunjukkan bahwa dinamika di dalam negeri Iran semakin kompleks, di mana tekanan eksternal justru berpotensi memperkuat solidaritas internal, setidaknya untuk sementara waktu.