Liputan6.com, Jakarta - Anggota Komisi VII DPR Mujakkir Zuhri mengapresiasi keputusan pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM pada 1 April 2026. Ini menjadi langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan harga minyak dunia dan gejolak geopolitik global.
Menurutnya, keputusan tersebut tidak hanya meredakan keresahan masyarakat, tetapi juga mampu menjaga inflasi tetap terkendali, khususnya pada sektor pangan dan logistik yang sangat sensitif terhadap perubahan harga energi.
Advertisement
“Kalau BBM dinaikkan sekarang, efek dominonya akan sangat besar. Ongkos transportasi naik, distribusi sembako naik, harga beras, cabai, sayur, hingga kebutuhan pokok lain ikut terdorong. Inflasi sekunder bisa melonjak dan daya beli masyarakat langsung tertekan,” ujar legislator Golkar tersebut.
Ia menilai keputusan pemerintah menahan harga BBM membuat proyeksi inflasi triwulan II 2026 tetap berada dalam rentang target Bank Indonesia, yakni 2,5±1 persen. Bahkan di wilayah Sumatera, termasuk Jambi, tekanan inflasi lokal diperkirakan dapat ditekan sekitar 0,3 hingga 0,5 persen dibandingkan jika harga BBM naik.
Mujakkir menjelaskan, kebijakan tersebut juga sangat penting bagi rumah tangga kecil dan menengah karena biaya transportasi, logistik, dan angkutan umum tidak mengalami lonjakan. Hal itu menjaga konsumsi masyarakat tetap tumbuh, padahal konsumsi rumah tangga selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional dengan kontribusi sekitar 55 persen terhadap PDB.
“Ketika masyarakat tidak terbebani kenaikan ongkos harian, mereka masih punya ruang untuk belanja kebutuhan lain. Itu penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi kuartal kedua tetap kuat,” katanya.
Pertumbuhan Ekonomi
Ia memperkirakan, dengan harga BBM tetap stabil, pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II 2026 berpotensi meningkat 0,4 hingga 0,6 persen di atas baseline 5,1 persen, terutama ditopang sektor konsumsi, perdagangan, ritel, dan UMKM.
Selain itu di sektor usaha kecil, ritel, dan industri makanan-minuman menjadi kelompok yang paling diuntungkan. Stabilitas harga BBM memberi kepastian biaya operasional sehingga pelaku usaha tidak perlu menaikkan harga jual secara mendadak.
“UMKM di daerah sangat sensitif terhadap biaya transportasi. Kalau BBM tetap, maka harga distribusi bahan baku lebih terjaga dan pelaku usaha bisa fokus pada ekspansi usaha, apalagi momentum Ramadan dan Lebaran masih berlangsung,” jelasnya.
Mujakkir menilai keputusan pemerintah menahan harga BBM berhasil meredakan antrean panjang dan kepanikan di SPBU yang sempat muncul akibat isu kenaikan harga. Setelah ada kepastian resmi dari pemerintah dan Pertamina, kondisi pasar kembali normal dan tidak terjadi penimbunan berlebihan.
"Kebijakan tersebut menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas sosial, memperkuat daya beli masyarakat, dan memberi ruang bagi pemerintah daerah di Sumatera untuk tetap fokus pada pembangunan ekonomi tanpa dibayangi gejolak harga energi," tuturnya.