BEI dan KSEI Umumkan Daftar Saham Terkonsentrasi Tinggi, Simak Manfaatnya

BEI menyatakan, praktik high shareholding concentration (HSC) atau daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi praktik yang diterapkan di bursa global.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 02 April 2026, 20:23 WIB
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey HendrikPelaksana tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik. (Foto: Liputan6.com/Tira Santia)

Liputan6.com, Jakarta - Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia resmi merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026).

Pelaksana tugas Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Jeffrey Hendrik, menyampaikan publikasi HSC merupakan praktik yang telah diterapkan di berbagai bursa global, termasuk Hong Kong Stock Exchange, terutama dalam merespons isu konsentrasi kepemilikan saham.

Jeffrey menjelaskan, pengumuman HSC bertujuan memberikan gambaran kepada publik terkait tingkat kepemilikan saham yang terpusat pada pihak tertentu. Informasi ini diharapkan dapat membantu investor dalam mempertimbangkan keputusan investasi secara lebih matang.

"HSC merupakan pengumuman kepada publik di mana terdapat kepemilikan saham kuasa pusat saham yang terkonsentrasi pada sejumlah persentil penghubungan saham,” kata Jeffrey dalam Konferensi Pers dan Sosialisasi Capaian Reformasi Transparansi Pasar Modal Indonesia di Gedung Bursa Efek Indonesia, Kamis (2/4/2026).

Ia menegaskan, status HSC tidak serta-merta mencerminkan adanya pelanggaran di pasar modal, termasuk terkait ketentuan free float. Dengan kata lain, saham yang masuk dalam daftar ini belum tentu melanggar aturan yang berlaku.

"Nanti ada pertanyaan kalau terkonsentrasi sekian persen, apakah tidak memenuhi ketentuan free float. Jawabannya, tidak otomatis menunjukkan adanya pelanggaran apapun di bidang pasar modal,” ujarnya.

 

 

Mekanisme Evaluasi dan Tindak Lanjut

Pengunjung melintas di papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Jeffrey menjelaskan, penentuan saham yang masuk kategori HSC dilakukan melalui kajian bersama antara BEI dan KSEI menggunakan metodologi yang telah ditetapkan dalam prosedur operasional standar. Proses ini memastikan penilaian dilakukan secara objektif dan terukur.

Berbeda dengan praktik di Hong Kong yang tidak disertai tindakan lanjutan, BEI membuka ruang bagi emiten untuk melakukan evaluasi internal guna meningkatkan daya tarik investasinya. Emiten juga dapat mengambil langkah strategis yang dianggap perlu untuk memperbaiki kondisi kepemilikan saham.

“Namun di BEI nantinya perusahaan tercatat dapat melakukan assessment atau hal-hal lain yang dirasa perlu atau necessary action untuk meningkatkan investability dari kondisi emiten tersebut,” jelasnya.

Dalam hal perusahaan tercatat tidak lagi dalam kondisi kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi, maka BEI bersama dengan KSEI akan membuat pengumuman penutup atas hal tersebut.

 

Penutupan IHSG pada 2 April 2026

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada perdagangan saham Kamis, (2/4/2026), jelang libur panjang Paskah 2026. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah bursa saham Asia yang melemah dan mayoritas sektor saham tertekan.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini tersungkur 2,19% menjadi 7.026,78. Indeks saham LQ45 terpangkas 1,68% ke posisi 714,58. Seluruh indeks saham acuan memerah.

Jelang libur Paskah, IHSG berada di level tertinggi 7.161,79 dan terendah 7.019,23. Sebanyak 530 saham melemah sehingga menekan IHSG. 177 saham menguat dan 113 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.788.237 kali dengan volume perdagangan saham 25,6 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 12,8 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.978.

Pengamat pasar modal Reydi Octa menuturkan, pasar terlalu volatile akibat ketidakpastian Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai Iran. “Sehingga pasar mungkin lebih bijak risk off, atau tidak melakukan apa-apa pada saat seperti ini,” ujar dia saat dihubungi Liputan6.com.

Dari 11 sektor saham yang tertekan, satu sektor saham yakni sektor saham consumer siklikal naik 0,45%. Sementara itu, sektor saham basic turun 4,86%, dan catat koreksi terbesar. Sektor saham infrastruktur terpangkas 3,96% dan sektor saham energi susut 2,94%.

Selain itu, sektor saham industri melemah 2,23%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 0,61%, sektor saham kesehatan terpangkas 0,68%, sektor saham keuangan terperosok 0,72%. Lalu sektor saham properti merosot 1,57%, sektor saham teknologi  tergelincir 2,07% dan sektor saham transportasi merosot 2,08%.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya