Liputan6.com, Jakarta - Seorang bocah laki-laki berusia enam tahun di China tengah ditinggal sendirian di sebuah hotel selama lebih dari dua minggu. Hal ini menyentuh hati para pekerja hotel yang turun tangan merawatnya seperti keluarga sendiri.
Menurut Henan Television, melansir SCMP, Kamis, 2 April 2026, bocah laki-laki yang dijuluki Chengcheng itu check-in ke sebuah hotel di Zhengzhou, Provinsi Henan, bersama ibunya yang berusia 25 tahun, yang bernama Yue, pada Februari 2026.
Advertisement
Awalnya, si ibu keluar hotel pada malam hari dan pulang siang hari, tapi ia tidak kembali ke hotel pada Maret dan tidak meninggalkan informasi kontak. Selama lebih dari setengah bulan, Chengcheng tinggal sendirian di kamar hotel.
Dia mengobrol dengan para petugas kebersihan, meminta pelukan dari mereka, dan sering meringkuk di dekat jendela sambil memandang ke luar. Pada suatu momen, yang menuai simpati luas di dunia maya, dia bertanya pada pengeras suara pintar di ruangan itu apakah pengeras suara itu memiliki orangtua, sebelum berkata, "Aku ingin ibuku kembali."
Merasa prihatin dengan kondisinya, staf hotel bergantian merawatnya dan membelikannya makanan, serta buah-buahan. Salah satu petugas kebersihan, yang menjadi sangat dekat dengan anak itu, bertindak sebagai "ibu pengganti," menghabiskan waktu berbicara dan bermain dengannya setiap hari.
Para staf juga menyampaikan imbauan publik agar Yue kembali. Sementara itu, polisi setempat dan pekerja komunitas bergabung dalam pencarian dan berhasil mengonfirmasi kota asal bocah tersebut.
Bersatu Kembali
Pada 24 Maret 2026, Yue kembali ke hotel dan bertemu kembali dengan putranya, yang berlari ke pelukannya. Ia meminta maaf dan mengatakan bahwa penyakit, rasa takut menularkan infeksi padanya, dan utang yang menumpuk telah memaksanya meninggalkan anaknya.
Chengcheng menghiburnya, "Bu, aku tidak menyalahkanmu. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku adalah seorang pria kecil. Aku ingin cepat dewasa dan melindungimu." Dengan bantuan dari pihak berwenang setempat, keduanya kemudian dibawa kembali ke kota asal mereka.
Sebelum pergi, Chengcheng mengatakan bahwa dia tidak ingin berpisah dengan staf hotel. Ia terlihat menyeka air mata salah satu petugas kebersihan, meminta nomor teleponnya, dan berjanji untuk tetap menghubunginya.
Janji Sang Ibu
Yue mengatakan bahwa dia telah menyadari kesalahannya dan berjanji untuk bekerja keras, membayar tagihan hotel, dan membesarkan putranya dengan baik.
Salah seorang staf yang emosional berkata padanya, "Awalnya, kami semua membencimu. Kami hanya berharap kamu tidak pernah meninggalkan Chengcheng lagi. Jika kamu kembali ke hotel ini di masa mendatang, kamu bisa menginap gratis."
Laporan media daratan Tiongkok menyebutkan bahwa Yue berasal dari keluarga miskin, memiliki adik perempuan penyandang disabilitas yang biaya pengobatannya mencapai lebih dari 100 ribu yuan (sekitar Rp247 juta), dan tidak menikah dengan ayah Chengcheng.
Karena situasi keluarga tersebut, federasi perempuan setempat dilaporkan menempatkan Chengcheng untuk sementara waktu bersama keluarga asuh yang memiliki kondisi keuangan lebih baik.
Mungkin Melanggar Hukum
Chengcheng sekarang sudah mulai bersekolah, tapi masih di taman kanak-kanak karena sebelumnya tidak memiliki pendidikan formal. Para pengacara mengatakan Yue mungkin telah melanggar Undang-Undang Perlindungan Anak di Bawah Umur Tiongkok.
Pengacara berbasis di Beijing, Zhang Huimin, mengatakan bahwa dalam kasus serius, perilaku seperti itu dapat dianggap sebagai penelantaran anak, yang dapat dihukum hingga lima tahun penjara.
Seorang warganet mengatakan, "Yue melahirkan Chengcheng saat baru berusia 19 tahun. Dia sendiri masih gadis muda dan tidak tahu bagaimana menjadi ibu yang baik."
Sementara yang lain menulis, "Tidak ada alasan untuk meninggalkan seorang anak. Saya harap dia kembali bukan karena takut akan tekanan publik, tapi karena dia benar-benar menyadari tanggung jawabnya sebagai seorang ibu."