Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto hari ini, Kamis (2/4/2026) menunjukkan pergerakan yang cenderung variatif, dengan mayoritas aset digital utama bergerak di zona hijau meski tipis. Kenaikan harga kripto global ini mencerminkan sentimen pasar yang masih relatif stabil di tengah dinamika ekonomi global. Adapun harga bitcoin (BTC) dan Ethereum kompak menghijau.
Di sisi lain, sejumlah aset kripto juga mencatatkan koreksi, menandakan adanya aksi ambil untung oleh investor. Fluktuasi ini terlihat pada 15 besar kapitalisasi pasar kripto, yang tetap didominasi oleh pemain utama dengan nilai kapitalisasi mencapai ratusan miliar hingga triliunan dolar AS.
Advertisement
Mengutip Coinmarketcap.com, Kamis (2/4/2026) Bitcoin masih menjadi pemimpin pasar dengan kapitalisasi mencapai sekitar USD 1,37 triliun. Dalam 24 jam terakhir, harga BTC berada di level USD 68.157,92 atau naik tipis 0,13%.
Di posisi kedua, Ethereum mencatat kapitalisasi sebesar USD 259,24 miliar. Harga ETH berada di USD 2.141,84, melonjak 2,31% dalam sehari.
Selanjutnya, Tether sebagai stablecoin terbesar memiliki kapitalisasi USD 184,18 miliar. Harganya relatif stabil di USD 0,9999 dengan kenaikan tipis 0,06%.
BNB berada di posisi keempat dengan kapitalisasi USD 83,28 miliar. Harga BNB turun 0,92% ke level USD 610,82. Sementara itu, XRP mencatat kapitalisasi USD 82,88 miliar dengan harga USD 1,34 atau naik 1,01%.
Aset Kripto Menengah Stabil
USD Coin memiliki kapitalisasi USD 77,16 miliar dengan harga USD 0,9997 yang relatif stagnan. Pergerakan ini menegaskan posisinya sebagai stablecoin alternatif utama.
Solana mencatat kapitalisasi USD 46,43 miliar. Harga SOL turun 1,98% ke USD 81,01. Berikutnya, TRON dengan kapitalisasi USD 29,93 miliar naik 0,81% ke harga USD 0,3158.
Dogecoin yang populer sebagai meme coin mencatat kapitalisasi USD 15,68 miliar. Harga DOGE naik 1,03% ke USD 0,09258. Sementara itu, UNUS SED LEO memiliki kapitalisasi USD 9,23 miliar dan naik 0,37% ke USD 10,02.
Altcoin Lain Bergerak Variatif
Hyperliquid mencatat kapitalisasi USD 9,22 miliar dengan harga USD 35,99, turun 0,77%.M. Bitcoin Cash memiliki kapitalisasi USD 9,10 miliar. Harga BCH turun cukup dalam 2,55% ke USD 454,71.
Di sisi lain, Cardano mencatat kinerja positif dengan kenaikan 3,55%. Harga ADA berada di USD 0,2482 dengan kapitalisasi USD 8,96 miliar. Chainlink juga menguat 2,64% ke USD 8,96 dengan kapitalisasi USD 6,35 miliar.
Terakhir, Monero mencatat kapitalisasi USD 6,17 miliar. Harga XMR naik 0,59% ke USD 334,40, mencerminkan permintaan terhadap aset kripto berbasis privasi.
Gagalnya CLARITY Act Bisa Bawa Masa Depan Suram bagi Kripto
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Coin Center, Peter Van Valkenburgh. mengatakan kegagalan meloloskan regulasi yang jelas seperti CLARITY Act dinilai dapat membuka peluang bagi pemerintah Amerika Serikat di masa depan untuk bersikap lebih keras terhadap industri kripto.
Mengutip laman Cointelegraph.com, Senin (30/3/2026), dalam pernyataannya di platform X, ia menyoroti pentingnya pengesahan RUU seperti CLARITY Act dan Blockchain Regulatory Certainty Act.
Menurutnya, mengabaikan perlindungan bagi pengembang demi kepentingan jangka pendek justru berisiko menciptakan masa depan industri yang suram.
“Tujuan CLARITY bukan untuk mempercayai pemerintahan saat ini, tetapi untuk mengikat pemerintahan berikutnya,” ujarnya.
Valkenburgh menambahkan, tanpa perlindungan hukum yang jelas, industri kripto akan berada di bawah bayang-bayang kebijakan yang berubah-ubah, tekanan politik, dan ketidakpastian hukum.
RUU Mandek Ketidakpastian Regulasi
Mengintai RUU CLARITY diketahui mandek di Senat setelah tidak tercapai kesepakatan antara bank, perusahaan kripto, dan pembuat kebijakan. Salah satu poin krusial yang diperdebatkan adalah soal izin imbal hasil (yield) dari stablecoin.
Secara umum, RUU ini mencakup kerangka pendaftaran perantara kripto, regulasi aset digital, hingga klasifikasi token. Van Valkenburgh juga mengingatkan tanpa kejelasan legislasi, lembaga seperti Department of Justice berpotensi meningkatkan penindakan terhadap pengembang alat privasi dengan tuduhan sebagai pengirim uang ilegal. Sebelumnya, di era kepemimpinan Gary Gensler di SEC, industri kripto kerap mengkritik pendekatan regulator yang dinilai lebih mengandalkan penegakan hukum dibandingkan pembuatan aturan formal.
Namun, sejak pengunduran diri Gensler pada Januari 2025, arah kebijakan SEC mulai berubah menjadi lebih ramah terhadap industri, termasuk penghentian sejumlah kasus lama. Meski begitu, Van Valkenburgh menegaskan momentum ini tidak boleh disia-siakan. “Jika kita hanya mengandalkan kelonggaran sementara dari pemerintah saat ini, kita justru berisiko memperlemah fondasi industri dalam jangka panjang," pungkasnya.