Liputan6.com, Jakarta - Belakangan ramai soal COVID-19 Cicada atau BA.3.2. Mendengar kata Cicada, sebagian orang berpikir bahwa varian ini disebarkan oleh serangga yang dalam bahasa Sunda dikenal dengan nama tonggeret.
Serangga ini juga disebut riang-riang atau reriang karena suaranya yang nyaring. Terkait anggapan ini, epidemiolog Dicky Budiman memastikan bahwa varian COVID-19 BA.3.2 tidak disebarkan oleh tonggeret, hanya saja keduanya memiliki karakter yang mirip.
Advertisement
"Bukan disebarkan oleh tonggeret, namanya aja ngambil dari situ karena karakternya atau sifat biologisnya," kata Dicky kepada Health Liputan6.com saat dihubungi pada Rabu pagi (1/4/2026).
Dia menambahkan, Cicada bukan nama resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), melainkan hanya nick name alias sebutan saja. Alasan penamaan ini karena ada serangga cicada yang memiliki karakter bersembunyi di dalam tanah.
"Hibernasinya panjang dan ketika dia muncul, jumlahnya banyak. Nah karakter inilah yang analoginya cocok dengan BA.3.2 yang sebetulnya sudah ada sejak 2024 tapi tidak dominan dan hampir tidak terlihat, silent, undercover, selama berbulan-bulan bahkan setahun lebih,” tambahnya.
Varian ini, sambung Dicky, akhirnya muncul kembali dan menyebar secara global di akhir 2025. Artinya, virusnya ada dan beredar tapi rendah dan tidak terdeteksi cukup luas tapi kemudian mengalami ekspansi.
“Nah, karakter epidemiologi dari BA.3.2 ini terdeteksi di lebih dari 23 negara dan WHO sebetulnya masih mengklasifikasikannya sebagai varian under monitoring, jadi bukan varian of concern yang artinya belum terbukti lebih berbahaya dan parah. Tapi punya potensi epidemiologis yang signifikan,” jelasnya.
COVID-19 Cicada Tetap Tak Boleh Dianggap Remeh
Meski belum terbukti lebih berbahaya dari varian lainnya, COVID-19 Cicada tetap tidak boleh dianggap remeh. Pasalnya, varian ini memiliki sekitar 75 mutasi spike protein dengan karakter yang khas.
“Jadi bisa menghindari antibodi dari infeksi atau vaksin sebelumnya. Juga ada potensi peningkatan kemampuan transmisi. Ada juga peningkatan kemampuan virus masuk tubuh.”
Ini adalah karakter khas dari Omicron generasi lanjut, kata Dicky, tidak lebih mematikan tapi lebih mudah menginfeksi. Gejala klinisnya pun tidak berbeda signifikan dengan varian Omicron secara umum. Meliputi nyeri tenggorokan berat, demam, batuk kering, tapi belum ada bukti peningkatan pneumonia berat maupun peningkatan kasus kematian.