Liputan6.com, Jakarta - BMKG atau Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi cuaca di wilayah Jabodetabek pada Kamis (23/4/2026) akan didominasi awan tebal, sementara hujan ringan turut terjadi di beberapa wilayah. Demikian prediksi cuaca hari ini.
Pada pagi hari, seluruh wilayah Jakarta diprakirakan berawan tebal, tanpa terkecuali. Memasuki siang hari, hujan mulai mengguyur sebagian wilayah Jakarta.
Advertisement
Seperti Jakarta Pusat, Jakarta Selatan dan Jakarta Utara yang diprediksi terjadi hujan ringan, juga wilayah Jakarta Timur yang diprediksi terjadi hujan sedang. Sementara wilayah lainnya seperti Jakarta Barat diprediksi berawan tebal dan Kepulauan Seribu yang diprediksi Berawan.
Pada malam hari, awan tebal mendominasi sebagian wilayah Jakarta, seperti Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Sementara itu, wilayah Jakarta Utara diprakirakan berawan dan wilayah Kepulauan Seribu diprakirakan cerah berawan. Lain hal-nya dengan wilayah Jakarta Selatan yang diprakirakan turun hujan ringan.
Untuk daerah penyangga seperti Depok, Jawa barat, diprakirakan berawan di pagi hari, Bekasi diprakirakan berawan tebal, sementara Kota Bogor diprakirakan cerah berawan.
Pada siang hari, ketiga wilayah penyangga Jawa Barat, mengalami berbagai kondisi cuaca yang berbeda-beda.
Seperti wilayah Bekasi yang diprediksi turun hujan sedang, wilayah Depok yang diprediksi cerah berawan dan Kota Bogor yang diprediksi Cerah. Sementara malam hari, seluruh wilayah penyangga diprakirakan turun hujan ringan.
Lalu untuk wilayah Tanggerang, Banten, pada pagi hari diprakirakan berawan, sementara siang dan malam hari diprakirahan hujan ringan.
Berikut informasi prakiraan cuaca hari ini di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.co.id:
| Kota | Pagi | Siang | Malam |
| Jakarta Barat | Berawan Tebal | Berawan Tebal | Berawan Tebal |
| Jakarta Pusat | Berawan Tebal | Hujan Ringan | Berawan Tebal |
| Jakarta Selatan | Berawan Tebal | Hujan Ringan | Hujan Ringan |
| Jakarta Timur | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Berawan Tebal |
| Jakarta Utara | Berawan Tebal | Hujan Ringan | Berawan |
| Kepulauan Seribu | Berawan Tebal | Berawan | Cerah Berawan |
| Bekasi | Berawan Tebal | Hujan Sedang | Hujan Ringan |
| Depok | Berawan | Cerah Berawan | Hujan Ringan |
| Kota Bogor | Cerah Berawan | Cerah | Hujan Ringan |
| Tangerang | Berawan | Hujan Ringan | Hujan Ringan |
El Nino Godzilla, Apa Virus Campak Bisa Bertahan di Cuaca Panas?
Sebelumnya, fenomena El Nino yang diperkirakan melanda Indonesia pada April hingga Oktober 2026. El Nino pada tahun ini disebut-sebut menyebabkan musim kemarau lebih panas, kering, dan ekstrem sehingga disebut El Nino Godzilla.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan: apakah kondisi cuaca panas ekstrem bisa memengaruhi daya hidup virus penyebab campak?
Terkait hal ini, dokter spesialis anak, Elsye Souvriyanti, menjelaskan bahwa virus penyebab campak masuk dalam kelompok Paramyxovirus yang tidak memiliki daya tahan tinggi.
"Organisme ini tidak memiliki daya tahan yang tinggi sebetulnya, jadi kalau di luar tubuh di suhu kamar dia tiga sampai lima hari itu daya infektivitasnya, daya untuk membuat infeksinya akan turun menjadi 60 persen," kata Elsye kepada Health Liputan6.com dalam diskusi daring bersama Rumah Sakit YARSI, Senin 20 April 2026.
Virus penyebab campak memiliki karakter mudah dihancurkan oleh sinar ultraviolet karena tidak tahan terhadap panas.
"Makanya perlu kalau ada pengidap campak di rumah, ditempatkan di kamar isolasi yang sinar mataharinya bisa masuk ke dalam kamar, supaya virus-virus yang keluar itu bisa mati," ucap Elsye.
Sebaliknya, dalam kondisi dingin, virus ini bisa bertahan dalam waktu lama.
Campak Turun tapi Potensi Dengue Meningkat
Kemampuan virus campak untuk menginfeksi turun di cuaca panas ekstrem, tapi muncul potensi penyakit lain.
Kehadiran El Nino Godzilla membuat Indonesia mengalami peningkatan suhu 1,5 hingga 2 derajat Celsius.
Kondisi ini menyebabkan berkurangnya proses rain washing, sehingga polutan udara tidak tersapu hujan dan cenderung terakumulasi akibat udara stagnan, lapisan inversi, serta angin lemah, bahkan diperparah risiko kebakaran hutan dan lahan yang menimbulkan kabut asap seperti disampaikan Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman.
Lalu, peningkatan suhu dan perubahan lingkungan juga dapat memicu penyakit tular vektor seperti dengue dan malaria akibat genangan air sebagai tempat berkembang biak nyamuk.
"Serta memperburuk kualitas air dan sanitasi yang berpotensi meningkatkan kasus diare, tifoid, kolera, dan leptospirosis," kata Aji dalam pesan tertulis beberapa waktu lalu.