Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Senin (30/3/2026) menyatakan bahwa perang terhadap Iran telah mencapai lebih dari setengah tujuan yang ditetapkan. Namun, ia menegaskan belum dapat memastikan kapan konflik tersebut akan berakhir.
Dalam wawancara dengan stasiun penyiaran konservatif Amerika Serikat, Newsmax, Netanyahu mengatakan bahwa kemajuan yang dicapai sejauh ini cukup signifikan.
Advertisement
"Ini jelas sudah melewati titik setengah jalan. Tapi saya tidak ingin menetapkan jadwal," ujar Netanyahu seperti dikutip dari laporan CNA.
Ia menjelaskan bahwa pernyataan tersebut merujuk pada pencapaian misi, bukan durasi waktu perang.
"Yang saya maksud adalah lebih dari setengah dalam hal misi, bukan dalam hal waktu," tambahnya.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang meluncurkan operasi militer bersama Netanyahu pada 28 Februari, sebelumnya menyebutkan bahwa perang diperkirakan berlangsung selama empat hingga enam minggu.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada hari yang sama mengatakan bahwa konflik kemungkinan masih akan berlangsung beberapa minggu ke depan, bukan berbulan-bulan. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya penolakan publik di AS terhadap perang yang telah memicu lonjakan harga minyak.
Netanyahu mengklaim bahwa perang telah mencapai sejumlah target penting, termasuk menewaskan ribuan anggota Garda Revolusi Iran. Ia pun mengaku bahwa Israel dan AS hampir menyelesaikan penghancuran industri persenjataan Iran.
"Seluruh basis industri mereka—menghancurkan semuanya, termasuk pabrik-pabrik secara keseluruhan, serta program nuklirnya," kata Netanyahu.
Namun demikian, klaim Netanyahu dan Trump bahwa Iran hampir memiliki senjata nuklir tidak didukung oleh badan pengawas nuklir Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hal ini kontras dengan pernyataan Trump sebelumnya yang menyebut bahwa serangan tahun lalu telah melumpuhkan situs-situs penting Iran.
Netanyahu juga menyampaikan keyakinannya bahwa rezim Republik Islam Iran akan runtuh dari dalam, meskipun ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan tujuan utama perang.
"Saya pikir rezim ini akan runtuh secara internal. Tapi saat ini, yang kami lakukan adalah melemahkan kapasitas militer mereka, kapasitas misil mereka, kapasitas nuklir mereka, dan juga melemahkan mereka dari dalam," bebernya.
Dalam beberapa hari terakhir, Trump juga menyatakan bahwa perang secara efektif telah menghasilkan "perubahan rezim", dengan munculnya tokoh-tokoh lain di dalam pemerintahan Iran yang menurutnya lebih terbuka untuk bekerja sama.