Tingkat Ketepatan Waktu Garuda Indonesia Tertinggi dalam 3 Tahun

Manajemen Garuda Indonesia menyatakan, tingkat ketepatan waktu (OTP) ini menjadi indikator kuat konsistensi peningkatan kinerja operasional.

oleh Pramita TristiawatiDiterbitkan 31 Maret 2026, 17:30 WIB
Grup Garuda Indonesia yang terdiri dari Garuda Indonesia dan Citilink, mencatatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP) tertinggi dalam tiga tahun terakhir. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenpar)

Liputan6.com, Jakarta - Grup Garuda Indonesia yang terdiri dari Garuda Indonesia dan Citilink, mencatatkan tingkat ketepatan waktu penerbangan atau on-time performance (OTP)  sebesar 92,08% selama arus mudik dan balik Lebaran 2026. Capaian ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir pada momentum Lebaran.

"Capaian tersebut merefleksikan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya, di mana OTP pada Lebaran 2025 tercatat sebesar 87,12% dan 86,07% pada Lebaran 2024. Capaian ini menjadi indikator kuat konsistensi peningkatan kinerja operasional kami, khususnya dalam mengelola intensitas penerbangan tinggi pada periode peak season,” ujar Direktur Operasi Garuda Indonesia, Dani Haikal Iriawan, Selasa (32/3/2026).

Dani menegaskan, keberhasilan ini juga merupakan hasil kolaborasi erat dengan para pengguna jasa. "Konsistensi tatalaksana operasional dan kesiapan penumpang dalam mengikuti prosedur penerbangan, khususnya yang hadir lebih awal di bandara, menjadi faktor penting yang turut menjaga kelancaran operasional di tengah tingginya trafik Lebaran,” ia menambahkan.

Layani 1,1 Juta Penumpang 

Sejalan dengan capaian OTP tersebut, Garuda Indonesia Group juga mencatat mengangkut lebih dari 1,1 juta penumpang selama periode 14–29 Maret 2026. Jumlah tersebut terdiri dari 501.336 penumpang Garuda Indonesia melalui 3.297 penerbangan 681.162 penumpang Citilink melalui 4.357 penerbangan.

Secara keseluruhan, Garuda Indonesia Group mencatatkan tingkat keterisian penumpang atau seat load factor (SLF) sebesar 86%, mencerminkan konsistensi pertumbuhan permintaan perjalanan selama periode Lebaran. 

Adapun rute dengan trafik tertinggi didominasi oleh rute domestik seperti Jakarta–Medan, Jakarta–Banda Aceh, Surabaya–Denpasar, Jakarta–Pangkal Pinang, serta Yogyakarta–Denpasar. Sementara untuk rute internasional, trafik tertinggi tercatat pada Jakarta–Amsterdam, Jakarta–Madinah, Jakarta–Jeddah, Jakarta–Haneda, dan Denpasar–Tokyo.

 

 

 

Danantara Kaji Nyicil 50 Pesawat Boeing untuk Garuda Indonesia

Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia (Foto: PT Garuda Indonesia Tbk/GIAA)

Sebelumnya, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) tengah mengkaji berbagai opsi skema untuk merealisasikan rencana pembelian 50 unit pesawat dari Boeing bagi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA). Rencana ini masih berada pada tahap pembahasan teknis di level pemerintahan.

Managing Director Stakeholders Management Danantara Indonesia, Rohan Hafas, memastikan pihaknya siap melakukan pembelian tersebut. Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai jumlah unit yang dapat dipenuhi Boeing dalam waktu dekat.

"Ini masih pembahasan teknis, artinya kita siap membeli 50 (unit), tapi Boeing belum menjawab atau akan menjawab, dia mampunya 10 (unit), 20 (unit), itu belum," ujar Rohan, Jumat (27/2/2026).

Salah satu tantangan utama dalam pengadaan armada adalah waktu pengiriman (delivery time). Menurut Rohan, antrean produksi pesawat global bisa mencapai tujuh tahun.

"Mau milih jenis pesawat yang mana, kalau delivery time-nya juga enggak segera, kita harus diputar otak dulu kan. Karena masih bahas juga, maksudnya kita kan calon pembeli, kita belum bayar. Kita bilang butuh lebih cepat dari tujuh tahun, tapi antrean rata-rata seluruh dunia ya sama," ujarnya.

 

Opsi Pendanaan hingga Suntikan Modal Baru

(Liputan6.com/Fahrizal Lubis)

Terkait sumber pendanaan, Danantara membuka berbagai opsi pembiayaan. Salah satunya adalah skema supplier’s credit atau cicilan langsung kepada Boeing.

"Sources of fund itu bisa macam-macam ya, tapi suppliers credit juga ada kan, kita juga bisa nyicil ke Boeing. Itu semua negosiasi yang nanti harus dilakukan," kata Rohan.

Selain itu, Danantara tidak menutup kemungkinan akan kembali memberikan suntikan modal kepada Garuda Indonesia untuk mendukung ekspansi armada.

Sebelumnya, pada pertengahan 2025, PT Danantara Asset Management (DAM) telah mengalokasikan suntikan modal sebesar Rp23,67 triliun kepada maskapai pelat merah tersebut.

"Capital injection harus ada, nanti next. Mau beli pesawat sebetulnya, tapi pesawat itu di seluruh dunia antre airlines mana pun, bisanya tujuh tahun, makanya nomor satu tadi merger dulu lebih bagus, digabung supaya jumlah armadanya itu efisien yang satu rute," ujar Rohan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya