Ini Langkah Pemerintah Usai Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Pemerintah juga telah berkoordinasi untuk memulangkan jenazah para prajurit TNI sekaligus meminta investigasi atas insiden tersebut.

oleh Delvira HutabaratMuhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 31 Maret 2026, 15:37 WIB
Anggota TNI dalam penugasan pasukan perdamaian. (Dispaned)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto berduka atas gugurnya tiga prajurit TNI yang tengah bertugas di Lebanon sebagai penjaga perdamaian.

"Berkenaan dengan berita gugurnya 3 prajurit TNI kita yang sedang menjalankan tugas sebagai anggota penjaga perdamaian Libanon, mewakili pak presiden tentunya kami pemerintah menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya dan melalui menteri luar negeri juga kemarin pemerintah telah menyampaikan sikap termasuk menyayangkan kejadian ini sekaligus meminta kepada otoritas terkait melakukan investigasi," kata dia dalam keterangannya, Selasa (31/3/2026).

Prasetyo menambahkan, saat ini pihak Istana sudah berkordinasi dengan menteri pertahanan dengan menteri luar negeri termasuk panglima TNI dalam hal melakukan upaya terbaik untuk memulangkan jenazah ketiga prajurit yang gugur.

Termasuk, melakukan masukan kepada prajurit lain yang masih bertugas untuk tetap waspada.

"Kami melalukan upaya terbaik untuk memulangkan jenazah tiga prajurit tersebut, sekaligus memberi briefing kepada pasukan dan prajurit di lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan," jelas Prasetyo.

"Demikian, tentunya kita merada kehilangan dan duka cita yang sangat mendalam," kata dia.

Usulan Evaluasi

Sementara, Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono menegaskan, prajurit TNI yang dikirim dalam misi perdamaian bukan untuk perang. Karena itu, ia meminta ada evaluasi ulang terkait keberadaan prajurit di sana.

"Untuk menjaga perdamaian, bukan untuk bertempur perang. Jadi, kami sangat amat sedih dan kami sangat menyampaikan belasungkawa yang amat dalam kepada keluarga korban dan juga kepada seluruh prajurit TNI," kata dia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta , Selasa (31/3/2026).  

"Dan di kesempatan yang sama juga, saya terus menyampaikan untuk dilakukan evaluasi mendalam, evaluasi ulang akan keberadaan prajurit kita di sana," sambungnya. 

Politikus Golkar ini pun meminta ada evaluasi dan jaminan bahwa kondisi prajurit akan aman semua. Jika kondisi di sana tak aman nala lebih baik operasi perdamaian dihentikan. 

"Ya berarti mungkin sebaiknya operasi dihentikan terlebih dahulu, sampai benar-benar situasi ini kondusif," jelas Dave. 

Prajurit TNI Kena Serangan Israel saat Konvoi Pasukan Perdamaian di Lebanon

Sebelumnya, TNI mengungkapkan misi mulia prajurit yang gugur akibat serangan Israel pada Senin (30/3/2026) di Lebanon Selatan. Sebanyak 3 prajurit TNI gugur dan 5 prajurit lainnya tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Kapuspen TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah mengatakan, para prajurit TNI terkena serangan Israel saat sedang mengawal konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) menuju markas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1.

"Berdasarkan laporan dari daerah Penugasan insiden tersebut terjadi pada saat Tim Escort Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi Combat Support Service Unit (CSSU) dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Mako Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1," kata Aulia dalam keterangannya, Selasa (31/3).

Insiden itu terjadi di tengah eskalasi konflik tinggi antara Israel dan Lebanon. Ledakan kendaraan mengakibatkan gugurnya Prajurit TNI atas nama Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.

Korban luka akibat serangan ini yaitu Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto. Keduanya sudah dievakuasi dan dalam penanganan medis di Rumah Sakit St. George Beirut, Lebanon.

"TNI dalam melaksanakan penugasan Pasukan Pemeliharaan Perdamaian tetap mengutamakan keselamatan prajurit dengan tetap meningkatkan kewaspadaan sesuai Standard Operating Procedure (SOP) UNIFIL," ujarnya.

Jenderal bintang dua ini menyebut, kejadian tersebut saat ini sedang dilakukan investigasi untuk mencari tahu penyebabnya. "TNI juga terus memonitor perkembangan situasi serta menyiapkan langkah-langkah kontijensi dihadapkan pada dinamika di Daerah Misi Lebanon," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya