Orang Tua Praja STPDN asal NTB Resah

Rekaman eksklusif yang ditayangkan SCTV dua hari silam, membuat orang tua praja STPDN asal Nusatenggara Barat, resah. Di antaranya ada yang minta pengasuh STPDN melindungi anak mereka.

oleh Liputan6Diterbitkan 24 September 2003, 05:29 WIB
Liputan6.com, Mataram: Orang tua praja Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri asal Nusatenggara Barat resah, Selasa (23/9). Mereka khawatir anak-anaknya bakal disiksa para senior praja STPDN, seperti yang ditayangkan SCTV, dua hari silam. Bahkan, sebagian di antara mereka sempat meminta perlindungan keamanan bagi putra-putrinya dengan cara menghubungi pengasuh dan staf pengajar STPDN.

Keresahan orang tua praja bukan tak berdasar. Betapa tidak, lewat rekaman eksklusif tersebut, para orang tua melihat jelas bahwa kekerasan memang mewarnai kegiatan di sekolah calon pamong itu. Tak heran banyak komentar masyarakat muncul menyusul tayangan tersebut. Ada yang bilang kejam, sadis, bahkan tak manusiawi. Namun, ada juga yang menganggap tindakan senior biasa-biasa saja. Meski begitu, orang tua praja di NTB tetap gundah. Mereka benar-benar takut anaknya disiksa [baca: Dody, Sudah Disiksa Dipecat Pula].

Sementara itu, sejumlah alumni STPDN asal NTB yang tergabung dalam Forum Komunikasi Alumni STPDN mendukung upaya pengubahan sistem pendidikan di STPDN. Yusharudin Putra, alumni STPDN angkatan ke-11 mengakui beberapa kali melihat langsung tindakan kekerasan. Menurut dia, kekerasan itu sebenarnya bukan tradisi. Namun, kekerasan yang terjadi hanya dilakukan oleh segelintir senior.

Redaksi Liputan 6 SCTV hingga Selasa malam masih menerima sejumlah faksimili dan telepon dari pemirsa mengenai tayangan "Siksaan di Balik Tembok STPDN". Mayoritas faksimili itu berisi dukungan atas tayangan tersebut. Ada juga yang berisi laporan sejumlah keluarga yang mengatakan bahwa anak mereka pernah menjadi siswa di STPDN, namun keluar karena tak tahan dengan penyiksaan fisik yang diterima [baca: Tradisi "Shaolin" di Jatinangor].

Berikut sebagian dari laporan para keluarga yang anaknya sempat disiksa:
1. Nazni Trio MK, praja STPDN angkatan 1999, belakangan keluar karena tak tahan siksaan.
2. Hariayadi, praja STPDN angkatan IX. Lulus 1999 dan sempat bekerja selama dua tahun. Pada 2002 meninggal dunia karena luka akibat penyiksaan semasa kuliah.
3. Dohar P. Marbun, praja STPDN angkatan IX, keluar karena tak tahan siksaan.
4. Dodi Rusdiansyah, praja STPDN angkatan XVIII, keluar karena tak tahan siksaan. Hingga kini, dia masih dirawat.
5. Arie Aditya, praja angkatan 1966, keluar karena tak kuat mendapat siksaan.
6. Aryo Fanggidae, praja STPDN 2000, keluar karena tak tahan siksaan.(SID/Adhar Hakim)

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya