Aset Super Energy (SURE) Melesat 35% Berkat Ekspansi Proyek Mini LNG

PT Super Energy Tbk (SURE) mencatatkan lonjakan aset hingga Rp 1,62 triliun. Kenaikan ini didorong oleh percepatan proyek Mini LNG melalui anak usaha.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 30 Maret 2026, 11:40 WIB
Layar monitor menunjukkan pergerakan pasar saham di lantai Bursa Efek Indonesia menjelang aktivitas perdagangan, Jakarta pada Senin 9 Februari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) balik ke level 8.000 pada penutupan perdagangan, Senin (9/2/2026). (BAY ISMOYO/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - PT Super Energy Tbk mencatatkan perubahan signifikan pada posisi keuangan konsolidasian sepanjang 2025. Perusahaan mengungkapkan adanya kenaikan lebih dari 20% pada total aset dan liabilitas dibandingkan tahun sebelumnya.

Mengutip Keterbukaan Informasi BEI, Senin (30/3/2026), Direktur Utama PT Super Energy Tbk, Agustus Sani Nugroho, menjelaskan bahwa perubahan tersebut telah memenuhi ketentuan keterbukaan informasi sesuai regulasi Bursa Efek Jakarta, khususnya terkait kewajiban penyampaian informasi kepada publik.

Per 31 Desember 2025, total aset perusahaan dan entitas anak tercatat sebesar Rp 1.628 miliar. Angka ini meningkat Rp 426 miliar atau 35% dibandingkan posisi per 31 Desember 2024 yang sebesar Rp 1.202 miliar.

Kenaikan aset tersebut terutama didorong oleh meningkatnya uang muka pembelian aset tetap. Hal ini berkaitan erat dengan pengembangan proyek Mini LNG Liquefaction Plant yang tengah dijalankan oleh anak usaha.

"Pada periode 31 Desember 2025, total aset Perusahaan dan Entitas Anak adalah sebesar Rp 1.628 Milliar, naik sebesar Rp 426 Milliar atau 35% dibanding dengan periode 31 Desember 2024 yang sebesar Rp 1.202 Milliar disebakan oleh peningkatan uang muka pembelian asset tetap dan penambahan kas yang dibatas penggunaannya," kata Agustus.

Ia menjelaskan, entitas anak, PT Sumber Aneka Gas, menjadi kontributor utama dalam peningkatan ini melalui pembayaran uang muka untuk pembelian fasilitas Mini LNG tersebut.

Selain itu, peningkatan juga terjadi pada kas yang dibatasi penggunaannya. Dana ini berasal dari tambahan pinjaman sindikasi yang belum digunakan dan ditempatkan dalam rekening escrow sebagai jaminan fasilitas pinjaman.

Dana escrow tersebut ditempatkan di PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank JTrust Indonesia Tbk, yang berfungsi sebagai penampung sementara sebelum digunakan untuk kebutuhan proyek.

 

Liabilitas Naik 53% dari Pinjaman Sindikasi

Pekerja tengah melintas di bawah papan pergerakan IHSG usai penutupan perdagangan pasar modal 2017 di BEI, Jakarta, Jumat (29/12). Perdagangan bursa saham 2017 ditutup pada level 6.355,65 poin. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Seiring dengan peningkatan aset, total liabilitas perusahaan juga mengalami lonjakan signifikan. Per 31 Desember 2025, liabilitas tercatat naik Rp 479 miliar atau 53% dibandingkan tahun sebelumnya.

Peningkatan liabilitas ini terutama disebabkan oleh bertambahnya liabilitas jangka panjang berupa pinjaman sindikasi. Pinjaman tersebut diperoleh dari PT Indonesia Infrastructure Finance dan PT Bank JTrust Indonesia Tbk.

"Kenaikan ini utamanya karena terdapat kenaikan liabilitas jangka panjang yakni pinjaman sindikasi dari PT Indonesia Infrastructure Finance dan PT Bank JTrust Indonesia Tbk sebesar Rp 458 Milliar. Fasilitas pinjaman ini berlaku sejak tanggal 1 April 2024 untuk keperluan project Mini LNG milik PT Sumber Aneka Gas, Entitas Anak," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya