Email Direktur FBI Diretas Hacker Iran, Foto dan Dokumen Bocor

Aksi peretasan ini sudah dikonfirmasi oleh FBI.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 28 Maret 2026, 10:15 WIB
Direktur FBI Kash Patel memotong pita dalam acara peresmian kantor FBI di Wellington pada 31 Juli 2025. (Dok. Ola Thorsen/U.S. Embassy via AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Peretas atau hacker yang diduga terkait Iran dilaporkan telah membobol kotak masuk email pribadi milik Direktur FBI Kash Patel dan mempublikasikan sejumlah foto serta dokumen ke internet. Informasi ini disampaikan oleh kelompok peretas terkait dan dikonfirmasi oleh biro tersebut pada Jumat (27/3/2026).

Kelompok peretas yang menamakan diri Handala Hack Team menyatakan di situs mereka bahwa Patel "kini akan menemukan namanya dalam daftar korban yang berhasil diretas". Mereka mengunggah serangkaian foto pribadi Patel, termasuk saat ia menghirup dan merokok cerutu, mengendarai mobil convertible klasik, serta berpose di depan cermin sambil memegang botol besar minuman rum.

FBI membenarkan bahwa email Patel menjadi target serangan. Dalam pernyataannya, juru bicara FBI Ben Williamson seperti dikutip The Guardian mengatakan, "Kami telah mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mengurangi potensi risiko terkait aktivitas ini."

Williamson menegaskan bahwa data yang terkait bersifat historis dan tidak mencakup informasi pemerintah.

Handala, yang mengklaim sebagai kelompok peretas vigilante pro-Palestina, oleh para peneliti Barat dianggap sebagai salah satu identitas yang digunakan oleh unit intelijen siber pemerintah Iran. Baru-baru ini, kelompok tersebut juga mengaku bertanggung jawab atas peretasan terhadap perusahaan perangkat medis dan layanan berbasis di Michigan, Stryker, pada 11 Maret, dengan klaim telah menghapus sejumlah besar data perusahaan.

Kelompok Handala tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Selain foto-foto Patel, para peretas mempublikasikan sebagian dari lebih dari 300 email yang diduga berisi campuran korespondensi pribadi dan pekerjaan, dengan rentang waktu antara 2010 hingga 2019.

Keaslian pesan-pesan tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen. Namun, alamat Gmail pribadi yang diklaim diretas oleh Handala cocok dengan alamat yang sebelumnya dikaitkan dengan Patel dalam kebocoran data terdahulu yang disimpan oleh perusahaan intelijen dark web, District 4 Labs.

Perusahaan induk Google, Alphabet Inc., yang mengoperasikan Gmail, tidak menanggapi permintaan komentar.

 

Strategi Iran?

Kelompok peretas yang terkait Iran—yang sebelumnya cenderung tidak banyak menarik perhatian setelah AS dan Israel melancarkan serangan terkoordinasi terhadap Republik Islam bulan lalu—kini semakin terbuka dalam mengumumkan operasi siber mereka seiring berlanjutnya konflik.

Selain serangan terhadap Stryker, Handala pada Kamis (26/3) juga mengklaim telah mempublikasikan data pribadi puluhan karyawan perusahaan pertahanan Lockheed Martin yang bertugas di Timur Tengah. Dalam pernyataannya, Lockheed Martin menyebut pihaknya mengetahui laporan tersebut dan telah memiliki kebijakan serta prosedur untuk mengurangi ancaman siber terhadap bisnisnya.

Gil Messing, kepala staf perusahaan keamanan siber Israel Check Point, menyatakan bahwa operasi peretasan dan kebocoran terhadap Patel merupakan bagian dari strategi Iran untuk mempermalukan pejabat AS dan membuat mereka merasa rentan.

Menurutnya, pihak Iran "menggunakan apa pun yang mereka miliki". Ia juga menambahkan bahwa bukan hal yang tidak biasa bagi peretas asing untuk menargetkan email pribadi pejabat tinggi dan kebocoran semacam ini terjadi secara berkala.

Kasus serupa pernah terjadi ketika peretas membobol akun Gmail pribadi John Podesta, ketua kampanye Hillary Clinton, menjelang Pilpres AS 2016 dan mempublikasikan banyak datanya melalui WikiLeaks. Pada 2015, peretas remaja juga berhasil membobol akun AOL pribadi direktur CIA saat itu, John Brennan, dan membocorkan data pejabat intelijen AS.

Serangan yang relatif tidak canggih seperti ini sejalan dengan penilaian intelijen AS yang ditinjau Reuters pada 2 Maret. Penilaian tersebut menyebutkan bahwa Iran dan kelompok proksinya dapat merespons pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dengan serangan siber tingkat rendah terhadap jaringan digital AS.

Peretas yang terkait Iran juga diduga masih menyimpan data lain.

Tahun lalu, kelompok lain dengan nama samaran "Robert" mengatakan kepada Reuters bahwa mereka mempertimbangkan untuk mengungkap 100 gigabita data yang dicuri dari Susie Wiles dan tokoh-tokoh lain yang dekat dengan Donald Trump.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya