Tren Libur Idul Fitri 2026: Wisata Tenang dan Kesehatan Jadi Pilihan Favorit Warga Saudi

Wisata seperti apa yang dihadirkan selama Idul Fitri di Arab Saudi?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 30 Maret 2026, 07:15 WIB
Ilustrasi yoga. (c) itchaz.gmail.com/Depositphotos.com

Liputan6.com, Riyadh - Preferensi wisata warga Arab Saudi mulai mengalami pergeseran signifikan. Jika sebelumnya destinasi ramai dan penuh hiburan menjadi primadona, kini semakin banyak pelancong yang memilih tempat yang lebih tenang, santai, dan berfokus pada kesehatan—terutama saat libur Idul Fitri.

Didukung oleh berkembangnya resor kesehatan di dalam negeri, mulai dari AlUla hingga kawasan pesisir Jeddah, wisata domestik berbasis kebugaran dan relaksasi semakin diminati. Bahkan, majalah Vogue Arabia menyebut Kerajaan sebagai “destinasi liburan paling menarik di dunia,” dengan menyoroti proyek ambisius seperti AMAALA.

Fenomena ini tak lepas dari dorongan program Visi 2030 yang turut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan dan keseimbangan hidup. Tren tersebut juga tercermin dalam pilihan destinasi luar negeri, di mana wisatawan Saudi kini lebih mengutamakan ketenangan dan pengalaman unik.

Menurut Blue Sail, situs konsultan perjalanan, generasi muda berusia 18 hingga 40 tahun menjadi pendorong utama tren ini. Mereka cenderung memprioritaskan kesehatan mental dan kesejahteraan, bahkan saat berlibur, dikutip dari laman Arab News, Senin (30/3/2026).

Perubahan preferensi ini terlihat dari pilihan destinasi yang lebih “tenang” dibandingkan lokasi wisata populer. Misalnya, banyak wisatawan kini lebih memilih Gstaad dibanding St. Moritz, atau Koh Samui dibanding Phuket dan Bangkok.

Lujain Al-Alamy, warga Riyadh, mengaku lebih menyukai hotel butik karena suasananya yang intim dan personal. Ia bahkan menyebut pengalaman menginap di Philadelphia sebagai salah satu favoritnya karena layanan yang hangat dan dikelola secara kekeluargaan.

Hal senada diungkapkan Ghayed Al-Wassiah, mahasiswa kedokteran yang menginginkan liburan lebih tenang setelah padatnya aktivitas selama Ramadan. Ia memilih destinasi yang tidak terlalu ramai, namun tetap menawarkan suasana hidup yang seimbang.

Sementara itu, Nawal Al-Naif melihat libur pasca-Ramadan sebagai momen penting untuk “mengisi ulang energi” dan menjernihkan pikiran. Baginya, perubahan suasana menjadi cara efektif untuk keluar dari rutinitas dan memulai kembali dengan semangat baru.

Bagi pelancong lain seperti Lama Al-Suhaimi, keseimbangan tetap menjadi kunci. Ia menikmati suasana ramai, tetapi juga menyempatkan waktu untuk beristirahat di vila pribadi demi mendapatkan privasi dan kenyamanan.

Dengan nilai industri pariwisata kesehatan global yang mencapai 436 miliar dolar AS pada 2025, tren ini diperkirakan akan terus berkembang. Libur Idul Fitri 2026 menjadi bukti bahwa wisata berbasis kesehatan bukan sekadar tren sesaat, melainkan gaya hidup baru yang kini diadopsi oleh banyak warga Saudi—baik di dalam negeri maupun saat menjelajahi dunia.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya