Presiden Prabowo Ingin Semua Kendaraan di Indonesia Pakai Listrik, Bensin Cuma untuk Orang kaya

Presiden Prabowo canangkan konversi total kendaraan di Indonesia ke tenaga listrik, mulai dari motor hingga traktor. Langkah ini disebut sebagai game changer.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 27 Maret 2026, 18:13 WIB
Presiden Prabowo Subianto bertemu sejumlah pimpinan redaksi dan pengamat di kediaman pribadinya, Hambalang, Bogor, Jawa Barat. (Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto berencana untuk mengganti semua kendaraan di Indonesia, dengan menggunakan tenaga listrik. Bahkan, tidak hanya terbatas untuk roda dua dan empat saja, tapi juga termasuk truk dan traktor.

"The whole plan is semua motor kita akan kita konversi menjadi motor listrik. Semua mobil, semua truk, semua traktor harus tenaga listrik," katanya dalam acara "Presiden Prabowo Menjawab" di akun Youtube Prabowo Subuanto.

Dirinya juga menegaskan, , jika orang kaya ingin tetap menggunakan bensin tidak akan dipermasalahkan. Namun ia mengingatkan, mereka akan membayar seharga minyak dunia.

"Jadi nanti orang kaya yang punya Lamborghini, Ferrari silakan lu pakai bensin, lu bayar aja harga dunia. Mau USD200 kan, lu orang kaya kok," ungkapnya.

Baginya, langkah ini adalah game changer. Bukan hanya pada aspek ekonomi tapi juga lingkungan.

Pada aspek ekonomi, pengguna motor listrik bisa memangkas pengeluaran mereka hingga 20%. Kemudian pada sisi lingkungan, di Cina sendiri sudah nyata terlihat udara sangat bersih.

"Jadi ini this is our game changer. Ini game changer Cina Tiongkok dia sudah punya 800 gigawatt. Dia (Cina) the most advance," ucapnya.

"Saya pernah ingat saya enggak tahu ya 10 tahun atau berapa tahun yang lalu saya di Beijing siang-siang kuning kalau enggak salah sebelum Olimpiade itu. Smokish kuning siang hari kita enggak berani keluar ya sekarang clean," jelasnya lagi.

Harga Minyak Naik USD 1 per Barel, Beban APBN Bertambah Rp 6,7 Triliun

Lonjakan harga minyak dunia imbas penutupan Selat Hormuz menjadi kabar buruk bagi banyak negara yang bergantung pada minyak impor. Salah satunya Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa mengatakan, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel berdampak besar pada beban yang harus ditanggung APBN, terutama dari sisi subsidi energi seperti bahan bakar minyak (BBM).

Menurut dia, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per barel dapat menambah beban APBN hingga Rp 6,7 triliun.

"Dasarnya adalah penetapan ICP USD 70 per barrel. Ini jadi dasar perhitungan subsidi dan kompensasi utk LPG, Listrik dan BBM," kata kepada Liputan6.com, Kamis (26/3/22026).

Meski demikian, Indonesia dinilai masih mempunyai cara untuk menekan beban subsidi tersebut. Salah satunya melalui peralihan ke kendaraan listrik dan kompor listrik yang bisa menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi energi berbasis impor, baik BBM maupun LPG.

“Pada sektor transportasi misalnya, peralihan satu juta mobil berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik diperkirakan mampu mengurangi kebutuhan minyak mentah dalam jumlah signifikan. Penggantian satu juta mobil listrik dapat mengurangi kebutuhan minyak mentah hingga 13,2 juta barel per tahun,” tutur Fabby.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya