Liputan6.com, Jakarta - Kanker kolorektal tahap awal tidak menunjukkan gejala nyata. Lalu, bila stadium makin tinggi gejala yang muncul pun tidak spesifik.
"Kanker kolorektal itu gejala memang sangat tidak spesifik. Kadang merasa enggak enak di perut, lalu ada perubahan pola buang air besar," tutur Dr. dr. Albertus Ari Adrianto, Sp.B, Subsp.BD(K).
Advertisement
Menyorot mengenai pola BAB, hal tersebut salah satu gejalanya adalah sembelit alias tidak BAB berhari-hari."Kalau sudah 3 hari sekali, 4 hari sekali, 5 hari sekali BAB, itu pasti ada sesuatu," tuturnya.
Selain perubahan frekuensi buang air besar, Ari menjelaskan bahwa bentuk feses juga dapat menjadi tanda yang perlu diwaspadai.
"Kadang bentuknya tidak seperti biasa, tidak lonjong seperti pisang, bisa kecil-kecil atau berubah bentuk," ujar Ari saat bertemu di sela-sela konferensi kanker di Singapura pada awal Maret 2026.
Ia menambahkan, kondisi tersebut kerap dianggap sepele oleh masyarakat, sehingga banyak pasien datang dalam kondisi yang sudah lanjut. Padahal, perubahan pola buang air besar yang berlangsung terus-menerus perlu diperiksa lebih lanjut.
Lantaran gejala kanker kolorektal tidak spesifik, maka penting bagi seseorang yang sudah berusia 45 tahun ke atas melakukan skrining kanker kolorektal.
Pemeriksaan Sederhana: Tes Darah Samar
Ari mengungkapkan skrining yang bisa dilakukan dari yang sederhana seperti tes darah samar untuk mendeteksi adanya darah dalam feses (tanda awal polip/kanker).
Bila pada feses ditemukan ada darah maka bisa dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebabnya.
"Di Indonesia, paling sederhana di fasilitas kesehatan tingkat satu yakni puskesmas, yang bisa dilakukan di puskesmas lewat pemeriksaan feses. Kalau ada darah di feses, bisa dirujuk ke rumah sakit untuk dilakukan skrining tahap dua yakni kolonoskopi," tuturnya.
Kolonoskopi adalah skirinning atau pemeriksaan yang bertujuan untuk mendeteksi adanya perubahan yang tidak normal pada usus besar (kolon) dan rektum. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memasukkan sebuah selang fleksibel yang terdapat kamera kecil pada ujung selang ke dalam anus.
"Karena dengan kolonoskopi itu kita bisa menemukan kecil sekalipun. Polip pun bisa," tuturnya.