Iran Perkuat Pertahanan di Pulau Kharg Antisipasi Serangan Darat Amerika Serikat

Trump pernah melontarkan ancaman pada Iran untuk mengambil alih Pulau Kharg jika Selat Hormuz tak kunjung dibuka.

oleh Lia HarahapDiterbitkan 26 Maret 2026, 11:33 WIB
Foto satelit dari Planet Labs PBC ini menunjukkan Pulau Kharg di Iran pada 26 Februari 2026. (Dok. Planet Labs PBC via AP)

Liputan6.com, Jakarta - Iran mempertebal pengamanan di Pulau Kharg sebagai antisipasi kemungkinan operasi darat yang dilakukan Amerika Serikat. Upaya memperkuat pertahanan dilakukan dengan memasang ranjau, serta mengerahkan pasukan tambahan dan sistem pertahanan udara.

Laporan CNN pada Rabu (25/3/2026) waktu setempat, mengutip sumber intelijen AS, menyebut penguatan juga dilakukan dengan penempatan sistem pertahanan udara portabel serta ranjau anti-personel dan anti-lapis baja di sekitar pulau. Termasuk di sepanjang garis pantai yang berpotensi menjadi titik pendaratan pasukan Amerika.

Sumber tersebut juga menyatakan Komando Pusat AS (CENTCOM) terus memantau pulau tersebut untuk mendeteksi perubahan di lapangan, termasuk indikasi pemasangan jebakan.

Sebelumnya, pada Jumat (20/3) lalu, Axios melaporkan Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan opsi untuk memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dengan mengambil alih Pulau Kharg.

Kemudian, pada Minggu (22/3), Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan semua opsi tetap terbuka, termasuk kemungkinan pengiriman pasukan ke pulau tersebut.

 

Mengenal Pulau Kharg

Pulau terletak di Teluk Persia bagian utara. Pulau ini merupakan pusat utama ekspor minyak Iran dan menjadi tulang punggung sistem distribusi minyak negara tersebut.

Pulau Kharg berfungsi sebagai jalur utama bagi sebagian besar ekspor minyak mentah Iran. Sekitar 90–95 persen ekspor minyak mentah Iran—yang tahun lalu mencapai sekitar 1,7 juta barel per hari—dikirim melalui pulau ini sebelum menuju pasar internasional.

Pulau tersebut terhubung dengan ladang-ladang minyak utama Iran di daratan melalui jaringan pipa. Selain itu, Kharg memiliki terminal laut dalam berkapasitas besar yang mampu memuat kapal tanker minyak terbesar di dunia. Infrastruktur ini memungkinkan Iran mengirimkan minyak mentah secara efisien kepada para pembeli, terutama di kawasan Asia.

Namun, konsentrasi besar kapasitas ekspor di satu lokasi menciptakan kerentanan strategis.

"Iran sangat bergantung pada satu lokasi strategis untuk sistem ekspornya. Setiap gangguan yang berlangsung lama di Kharg akan sangat membatasi kemampuan Iran untuk mengekspor minyak dan dengan cepat memukul pendapatan pemerintah," kata Yesar Al-Maleki, analis Teluk dari Middle East Economic Survey (MEES), kepada kantor berita Anadolu.

Ia menambahkan bahwa kerentanan ini pernah terlihat pada masa Perang Iran–Irak pada 1980-an, ketika pulau tersebut berulang kali menjadi target serangan karena nilai strategisnya.

Seperti diketahui, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk Teheran, pada 28 Februari lalu hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika yang berada di Timur Tengah. Demikian dikutip dari Antara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya