Liputan6.com, Jakarta - Pasar kripto mencatat pemulihan tajam di awal pekan, dengan bitcoin kembali menembus level USD 70.000 seiring meredanya ketegangan geopolitik global.
Penguatan ini terjadi setelah Amerika Serikat menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran. Langkah tersebut membantu menurunkan harga minyak sekaligus meredakan kekhawatiran inflasi, sehingga meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko.
Advertisement
Dikutip dari Bitcoin.com, Rabu (25/3/2026), dalam laporan terbaru Wintermute, disebutkan bahwa bitcoin naik dari kisaran USD 68.000 hingga diperdagangkan di atas USD 70.000, bahkan sempat mendekati USD 71.000. Kenaikan ini terjadi setelah pekan sebelumnya bitcoin sempat melemah sekitar 3,4% akibat lonjakan harga minyak dan sikap hawkish bank sentral AS.
The Federal Reserve diketahui mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Namun, arah kebijakan moneter masih cenderung ketat, dengan sebagian besar pejabat memperkirakan tidak akan ada atau hanya sedikit penurunan suku bunga hingga 2026.
Faktor geopolitik tetap menjadi pendorong utama pasar. Pekan lalu, gangguan di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak Brent melampaui USD 112 per barel, level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan tersebut memicu kekhawatiran inflasi dan menekan pasar global.
Namun, meredanya konflik untuk sementara waktu membuat tekanan tersebut berkurang, sehingga harga minyak turun dan selera risiko investor kembali pulih.
Peluang Bitcoin ke USD 76.000, Tapi Risiko Masih Ada
Di tengah volatilitas pasar, ethereum justru menunjukkan ketahanan. Investor dinilai tertarik pada imbal hasil staking ethereum, terutama dalam lingkungan suku bunga tinggi. Sementara itu, produk ETF bitcoin sempat mengalami arus keluar dana jangka pendek saat pasar terkoreksi, meski secara keseluruhan aliran dana masih stabil.
Berbeda dengan kripto, emas sebagai aset safe haven justru mengalami tekanan. Harga emas turun lebih dari 10% dan mencatat kinerja mingguan terburuk dalam lebih dari empat dekade. Penguatan dolar AS serta aksi likuidasi menjadi faktor utama penurunan tersebut.
Wintermute menyebut, “The macro ceiling has shifted. Trump’s five-day pause temporarily lowers the geopolitical risk premium in oil markets and resets positioning into the March 27 options expiry.”
Ke depan, arah pasar akan sangat bergantung pada perkembangan di Timur Tengah. Jika harga minyak stabil dan jalur pengiriman energi seperti Selat Hormuz kembali normal, bitcoin berpotensi menguji level USD 74.000 hingga USD 76.000.
Namun, jika gangguan kembali terjadi, harga bitcoin bisa tertekan ke kisaran pertengahan USD 60.000.
Untuk saat ini, pasar kripto terlihat semakin sensitif terhadap dinamika global, menunjukkan bahwa pergerakan aset digital kini sangat dipengaruhi oleh faktor makroekonomi dan geopolitik.