Dampak Perang Iran, Permintaan Mobil Listrik di Asia Naik Tajam

Perang Iran yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, berdampak kepada lonjakan harga minyak dunia dan meningkatkan permintaan terhadap kendaraan.

oleh Arief AszhariDiterbitkan 24 Maret 2026, 15:34 WIB
Dampak Perang Iran, Permintaan Mobil Listrik di Asia Naik Tajam (JapanTimes)

Liputan6.com, Jakarta - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, akibat perang Iran dan Amerika Serikat serta Israel berdampak kepada lonjakan harga minyak dunia. Hal tersebut, tentunya berdampak kepada perubahan perilaku konsumen otomotif secara global.

Disitat JapanTimes, kondisi ini justru memberikan peluang bagi produsen kendaraan listrik (EV), termasuk BYD yang kini menikmati peningkatan minat konsumen di berbagai pasar Asia.

Di sejumlah showroom BYD distrik finansial Manila, Filipina, lonjakan minat terhadap mobil listrik BYD terlihat jelas. Permintaan meningkat pesat dalam beberapa pekan terakhir, seiring kenaikan harga bensin dan solar.

Fenomena ini tidak hanya terjadi kepada BYD, tapi juga dialami oleh merek lain, dan menandakan adanya pergeseran prefensi konsumen menuju elektrifikasi.

Seorang tenaga penjual mengungkapkan bahwa konsumen mulai mengganti mobil berbahan bakar konvensional dengan EV, karena biaya operasional yang lebih rendah.

Selain faktor harga, kebijakan pemerintah di sejumlah negara juga ikut mendorong tren peningkatan elektrifikasi ini kembali. Beberapa negara mulai memberikan insentif tambahan untuk kendaraan listrik, sekaligus memperketat biaya kepemilikan kendaraan berbahan bakar minyak. Hal ini semakin mempercepat peralihan menuju mobil listrik di kawasan tersebut.

Meski sebelumnya permintaan EV sempat diperkirakan melambat akibat berkurangnya subsidi, lonjakan harga minyak justru membalikkan situasi.

Harga Mobil Bisa Naik Terdampak Perang Iran

Konflik militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, melawan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran baru bagi industri otomotif global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah tersebut, dinilai berpotensi memicu efek berantai, mulai dari kenaikan harga energi hingga gangguan rantai pasok industri kendaraan di berbagai negara.

Salah satu dampak yang paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak dunia. Setelah konflik memanas, harga minyak mentah sempat melonjak hingga melewati US$ 110 per barel, level yang terakhir terlihat pada 2022.

Kenaikan harga energi ini berpotensi meningkatkan biaya produksi kendaraan, sekaligus biaya distribusi bagi produsen otomotif.

Disitat dari Carscoops, kenaikan harga energi juga dapat berdampak langsung pada konsumen. Harga bahan bakar yang lebih mahal biasanya memengaruhi keputusan pembelian kendaraan, terutama di pasar yang didominasi mobil bermesin bensin atau diesel.

Dalam kondisi tersebut, kendaraan hemat bahan bakar seperti hybrid atau mobil kecil berpotensi menjadi lebih diminati dibandingkan SUV atau pickup berukuran besar.

Selain harga energi, jalur logistik global juga menjadi sorotan. Ketegangan di kawasan Teluk, khususnya di Selat Hormuz, dapat mengganggu jalur perdagangan penting dunia.Perang militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel, melawan Iran 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya