Liputan6.com, San Juan - Pada 22 Maret 1978, dunia pertunjukan kehilangan salah satu sosok paling berani dalam sejarahnya. Karl Wallenda—maestro aksi berjalan di atas tali—tewas setelah jatuh saat melakukan atraksi di San Juan, Puerto Riko.
Wallenda lahir pada 1905 di Magdeburg, Jerman, dan sejak kecil telah hidup dalam keluarga pemain sirkus. Ia kemudian mendirikan kelompok akrobat tali tinggi terkenal, The Great Wallendas, yang dikenal luas karena aksi ekstrem tanpa jaring pengaman, sekaligus menekuni seni high-wire—yaitu pertunjukan berjalan, menari, atau melakukan atraksi di atas kabel atau tali yang direntangkan pada ketinggian tertentu, sering kali puluhan meter di atas tanah tanpa perlindungan keselamatan.
Advertisement
Seperti dikutip dari laporan Encyclopaedia Britannica, Wallenda menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia high-wire dan tetap aktif tampil bahkan ketika usianya telah melewati 70 tahun—sebuah hal yang sangat jarang dalam profesinya.
Hari itu di Puerto Riko, Wallenda yang telah berusia 73 tahun bersiap melakukan aksi berjalan di atas kabel baja yang direntangkan di antara dua menara hotel, sekitar 37 meter di atas tanah. Aksi tersebut merupakan bagian dari promosi pertunjukan sirkus di kota itu. Seperti dilaporkan oleh The Washington Post, pertunjukan itu menarik perhatian publik yang ingin menyaksikan langsung aksi legendarisnya.
Saat ia mulai melangkah, kondisi cuaca ternyata tidak bersahabat. Angin bertiup cukup kencang dan membuat kabel sedikit bergoyang. Meski demikian, Wallenda tetap melanjutkan aksinya, sebagaimana reputasinya selama puluhan tahun yang dikenal tak gentar menghadapi risiko. Namun, di tengah perjalanan, keseimbangannya mulai terganggu. Seperti dicatat oleh Encyclopaedia Britannica, ia sempat terlihat goyah sebelum akhirnya mencoba menyelamatkan diri dengan berjongkok dan memegang kabel.
Upaya itu gagal.
Dalam hitungan detik, Wallenda kehilangan pegangan dan jatuh dari ketinggian sekitar 10 lantai. Tubuhnya menghantam sebuah taksi di bawah, disaksikan oleh kerumunan yang awalnya datang untuk melihat aksi spektakuler, namun justru menyaksikan tragedi. Ia segera dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong. Seperti dikutip dari laporan The Washington Post, selain faktor angin, kondisi pemasangan kabel yang kurang stabil diduga turut berkontribusi terhadap kecelakaan fatal tersebut.
Peristiwa ini menjadi semakin mengguncang karena terekam oleh kamera televisi lokal. Seperti diulas dalam All That’s Interesting, rekaman tersebut kemudian menyebar luas dan menjadi salah satu dokumentasi paling mengejutkan dalam sejarah pertunjukan sirkus.
Wallenda bukan sekadar pemain sirkus, tetapi simbol dari filosofi hidup yang ekstrem—bahwa risiko adalah bagian dari seni. Ia pernah menyatakan bahwa berada di atas tali adalah saat ia benar-benar hidup, sementara di luar itu hanyalah menunggu.
Warisannya tetap hidup melalui keluarganya. Cicitnya, Nik Wallenda, masih melanjutkan tradisi berjalan di atas tali hingga saat ini. Namun, peristiwa 22 Maret 1978 tetap menjadi pengingat bahwa di balik keberanian yang memukau, selalu ada bahaya yang mengintai.