Liputan6.com, Capetown - Sejumlah negara di Afrika mulai merasakan tekanan serius pada pasokan bahan bakar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Gangguan rantai pasok global memicu kekhawatiran akan kelangkaan energi, lonjakan harga, hingga potensi perlambatan ekonomi di kawasan tersebut.
Di Zambia, cadangan bahan bakar dilaporkan berada pada level yang mengkhawatirkan. Stok bensin sekitar 40 juta liter diperkirakan hanya cukup untuk 23 hari ke depan berdasarkan tingkat konsumsi saat ini. Sementara itu, cadangan minyak tanah sebesar 65,9 juta liter diprediksi habis dalam waktu kurang dari 10 hari.
Advertisement
Kondisi serupa juga terjadi pada bahan bakar penerbangan jenis Jet A-1 yang hanya memiliki cadangan untuk sekitar 10 hari, dikutip dari laman Antara News, Sabtu (21/3/2026).
Tekanan pasokan juga mulai terasa di Afrika Selatan. Sejumlah laporan menyebutkan kekurangan solar di berbagai stasiun pengisian bahan bakar semakin sering terjadi. Pemerintah setempat kini menyiapkan langkah antisipatif, termasuk diversifikasi sumber pasokan energi, peningkatan kapasitas penyimpanan minyak, serta percepatan pembangunan infrastruktur energi untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Sementara itu di Somalia, lonjakan harga bahan bakar yang drastis memaksa pemerintah turun tangan. Harga bensin dan solar dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat, mendorong otoritas menerapkan regulasi baru. Pemerintah membatasi margin keuntungan para penjual, memberlakukan sanksi bagi pelanggar, serta mengatur kenaikan harga hanya dapat dilakukan pada hari tertentu guna menekan gejolak pasar.
Di Zimbabwe, tekanan inflasi energi juga semakin nyata. Otoritas pengatur energi negara itu kembali menaikkan harga bahan bakar untuk kedua kalinya dalam waktu singkat. Harga bensin kini mencapai 2,17 dolar AS per liter, naik 27 persen, sementara solar naik 15 persen menjadi 2,05 dolar AS per liter.
Kondisi ini mencerminkan dampak luas konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global. Ketergantungan negara-negara Afrika pada impor bahan bakar membuat kawasan tersebut sangat rentan terhadap gangguan distribusi dan fluktuasi harga internasional.
Jika ketegangan global terus berlanjut, krisis pasokan energi di Afrika diperkirakan akan semakin dalam, dengan risiko lanjutan terhadap stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.