BBM Subsidi Aman, Menkeu: APBN Tahan Dampak Lonjakan Harga Minyak

Pemerintah pastikan harga BBM subsidi tidak naik meski minyak dunia tembus 100 dolar per barel.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 20 Maret 2026, 05:00 WIB
Pengendara motor mengisi kendaraannya dengan BBM di salah satu SPBU, Jakarta, Selasa (15/3). Pertamina menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) umum Pertamax, Pertamax Plus, Pertamina Dex, dan Pertalite Rp 200 per liter. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi yaitu Pertalite dan Solar tetap stabil meski harga minyak dunia saat ini telah menembus level di atas USD 100 per barel.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, pemerintah akan menyerap tekanan kenaikan harga energi melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) agar tidak membebani masyarakat.

"Tidak (BBM tidak naik). Jadi kita absorb tekanan terhadap perekonomian di APBN. Kalau kita lepaskan, nanti kayak negara-negara lain pada panik orang-orang," ujar Purbaya dikutip dari Antara, Jumat (20/3/2026).

Menurutnya, skema subsidi energi yang diterapkan pemerintah telah dirancang dalam kerangka tahunan, sehingga fluktuasi harga minyak global sudah diperhitungkan dalam postur anggaran.

Purbaya menjelaskan, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga kondisi fiskal tetap sehat. Langkah tersebut meliputi efisiensi belanja hingga optimalisasi penerimaan negara.

"Kan subsidi kita diatur dihitung selama setahun penuh. Meskipun dengan harga sekarang pun kita sudah asumsikan seperti apa dampaknya ke APBN. Kita akan melakukan langkah-langkah entah penghematan, entah ini peningkatan pendapatan supaya APBN kita aman dan sampai sekarang hitungannya masih aman," jelasnya.

 

APBN Jadi Peredam Gejolak Ekonomi

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menemui Presiden Prabowo Subianto di Istana. (Liputan6.com/Lizsa Egeham)

Purbaya menekankan bahwa APBN memiliki peran penting sebagai peredam gejolak (shock absorber) dalam menghadapi tekanan ekonomi global, khususnya kenaikan harga energi.

Dengan peran tersebut, masyarakat diharapkan tetap dapat menjalankan aktivitas ekonomi tanpa harus menanggung lonjakan biaya yang signifikan.

Ia mengingatkan, jika kenaikan harga energi langsung diteruskan ke masyarakat, hal tersebut berpotensi memicu kepanikan seperti yang terjadi di sejumlah negara lain.

"Jadi masyarakat mesti ngerti juga bahwa APBN adalah meng-absorb shock seperti ini, sehingga masyarakat masih bisa melakukan bisnisnya, kegiatannya tanpa kenaikan beban yang berlebihan. Itu yang kadang-kadang dilupakan orang," kata Purbaya.

Pemerintah pun berkomitmen menjaga stabilitas harga energi sekaligus memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya