Komisaris Utama RELI Anton Budidjaja Borong 10 Juta Saham

Presiden Komisaris PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Anton Budidjaja, resmi borong 10 juta lembar saham perusahaan.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 18 Maret 2026, 17:45 WIB
Belanja saham RELI senilai Rp 4,8 miliar, Anton Budidjaja kini resmi miliki 0,556% saham Reliance Sekuritas Indonesia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Komisaris PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI), Anton Budidjaja, tercatat melakukan aksi pembelian saham perseroan di pasar. Transaksi ini menandai langkah awal Anton dalam membangun kepemilikan langsung di perusahaan yang dipimpinnya.

Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, Rabu (18/3/2026), pembelian dilakukan pada 17 Maret 2026 dengan jumlah signifikan, yakni mencapai 10 juta lembar saham. Langkah ini dilakukan dengan tujuan investasi pribadi.

Sebelum transaksi berlangsung, Anton Budidjaja dilaporkan belum memiliki saham RELI, dengan jumlah kepemilikan tercatat 0 unit atau setara 0% hak suara.

Namun setelah aksi pembelian tersebut, kepemilikan sahamnya meningkat menjadi 10 juta lembar atau setara dengan 0,556% dari total saham beredar.

Kenaikan ini mencerminkan langkah strategis untuk mulai memiliki eksposur langsung terhadap kinerja perusahaan. Transaksi dilakukan di harga Rp 480 per saham, sehingga total nilai pembelian diperkirakan mencapai Rp 4,8 miliar.

Aksi Investasi Pribadi di Tengah Dinamika Pasar

Dalam keterangannya, disebutkan bahwa tujuan dari transaksi ini adalah untuk investasi pribadi. Langkah ini sering kali dipandang sebagai sinyal positif oleh pelaku pasar, karena menunjukkan kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan ke depan.

Aksi pembelian saham oleh pejabat internal, khususnya komisaris atau direksi, kerap menjadi perhatian investor. Hal ini karena dianggap mencerminkan keyakinan terhadap fundamental dan potensi pertumbuhan emiten.

Dengan tambahan kepemilikan ini, Anton Budidjaja kini resmi menjadi salah satu pemegang saham RELI, meskipun porsinya masih tergolong kecil dibandingkan total saham beredar.

 

Pasar Saham Sensitif Jelang Lebaran, Investor Diimbau Disiplin Risiko dan Hindari Panic Selling

Pengunjung mengabadikan papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Jakarta, Rabu (15/4/2020). Pergerakan IHSG berakhir turun tajam 1,71% atau 80,59 poin ke level 4.625,9 pada perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Sebelumnya, menjelang libur panjang Idulfitri, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai sedang memasuki fase yang cukup sensitif. Kondisi ini dipengaruhi kombinasi sentimen geopolitik global serta proses pembenahan mekanisme pasar di dalam negeri.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengatakan, menjelang periode libur Lebaran pasar saham Indonesia saat ini berada dalam situasi yang relatif rentan akibat tekanan dari faktor eksternal maupun domestik.

Dari sisi global, konflik geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga energi, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga oleh Ketua Federal Reserve Jerome Powell membuat investor global cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana di pasar negara berkembang.

Sementara dari dalam negeri, pasar saham Indonesia juga masih berada dalam tahap penyesuaian setelah adanya sorotan dari MSCI terkait transparansi dan mekanisme perdagangan di pasar modal.

“Kombinasi faktor tersebut membuat pergerakan IHSG cenderung volatil karena investor masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi dan stabilitas pasar keuangan,” ujar Hendra kepada Liputan6.com, Selasa (17/3/2026).

Menurut Hendra, di tengah kondisi pasar yang masih bergejolak, investor perlu menerapkan strategi investasi yang lebih disiplin, khususnya dalam hal manajemen risiko.

 

PendekatanRasional

Ia menyarankan agar investor tidak melakukan pembelian saham secara agresif ketika pasar masih berada dalam fase koreksi. Pendekatan yang lebih rasional adalah melakukan akumulasi secara bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat, terutama ketika harga berada di area support yang menarik.

Selain itu, investor juga disarankan tetap menjaga porsi kas dalam portofolio guna mengantisipasi kemungkinan koreksi lanjutan di pasar.

“Investor juga sebaiknya menghindari panic selling. Dalam banyak kasus, penurunan pasar menjelang periode libur panjang sering kali dipicu oleh kebutuhan likuiditas jangka pendek, bukan karena perubahan fundamental,” kata Hendra.

   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya