TNI Buka Peluang Kerja Sama dengan Polri Usut Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS

keterlibatan TNI dalam penyelidikan kasus penyiraman air keras aktivis KontraS Andrie Yunus didasarkan pada berkembangnya opini publik yang mengaitkan institusinya dengan kasus tersebut.

oleh Luqman RimadiDiterbitkan 18 Maret 2026, 02:11 WIB
Dimas Bagus Arya menambahkan bahwa serangan penyiraman air keras itu mengakibatkan terjadinya luka serius di sekujur tubuh Andrie Yunus, terutama pada area tangan kanan dan kiri, muka, dada, serta bagian mata. Tampak dalam foto, sebuah poster bergambar bunga terlihat saat demonstrasi mendukung Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang disiram air keras oleh orang tak dikenal, Yogyakarta, 14 Maret 2026. (DEVI RAHMAN/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI, Aulia Dwi Nasrullah, menyatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk bekerja sama dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) dalam mengusut kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.

"Nanti kita lihat (peluang kerja sama dengan Polri) karena sekali lagi, kami dari TNI juga punya perangkat hukum dan ini dilakukan oleh aparat yang berwenang di lingkungan TNI," kata Aulia dalam konferensi pers di Jakarta Pusat, Selasa (17/3/2026).

BACA JUGA: Hakim Kabulkan Praperadilan Andrie Yunus

Aulia menjelaskan, hingga saat ini TNI masih mengandalkan metode penyelidikan internal dalam menangani kasus tersebut. Dia menyebut keterlibatan TNI dalam penyelidikan didasarkan pada berkembangnya opini publik yang mengaitkan institusinya dengan kasus tersebut.

Menurut Aulia, narasi yang beredar di masyarakat perlu ditindaklanjuti agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

"Tentunya kita tidak ingin ini menjadi opini yang berkembang di masyarakat," ujarnya.

 

Pastikan Proses Penyelidikan Transparan

Seorang aktivis memegang poster saat demonstrasi mendukung Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, yang disiram air keras oleh orang tak dikenal, Yogyakarta, 14 Maret 2026. Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, mengalami serangan penyiraman air keras oleh orang tidak dikenal. (DEVI RAHMAN/AFP)

Aulia memastikan proses penyelidikan akan dilakukan secara transparan dan profesional untuk menghindari adanya pengaburan fakta.

Namun, dia belum merinci sejauh mana perkembangan penyelidikan yang telah dilakukan.

"Masih dalam proses. Jadi nanti kawan-kawan wartawan mohon bersabar," kata dia.

Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) 2016 lebih buruk daripada 2015 (liputan6/abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya