Bahlil: APBN Sanggup Tanggung Harga Minyak Mentah hingga USD 100 per Barel

Harga minyak dunia tembus USD 100 per barel, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia klaim kondisi fiskal masih aman dalam koridor APBN 2026.

oleh Maulandy Rizky Bayu KencanaDiterbitkan 17 Maret 2026, 16:05 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. (Foto: Liputan6.com/Maulandy R)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa kondisi di sektor energi saat ini masih sesuai dengan perhitungan pemerintah. Termasuk dengan harga minyak dunia, yang kini melonjak di atas USD 100 per barel.

Meskipun harga minyak saat ini sudah jauh melampaui asumsi dasar dalam APBN 2026 di kisaran USD 70 per barel, namun Bahlil mengklaim bahwa anggaran negara masih cukup untuk menampung kenaikan harga tersebut.

"Dengan harga USD 100 (per barel), proyeksinya kan USD 70 (per barel). Kalau masih USD 100, itu Insya Allah masih dalam koridor APBN. Masih bisa kita excercise," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Bahlil pun mengaku masih tetap optimistis di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik saat ini. Sebagai Menteri ESDM, ia tidak ingin menimbulkan kekhawatiran pasar.

"Saya sebagai menteri ESDM, sebagai pembantu presiden, harus optimis. Kalau ada masalah, harus kita selesaikan. Tugas pemerintah, tugas pemimpin, itu menyelesaikan masalah, bukan menghindari masalah," tegasnya.

"Masalah rakyat adalah tanggung jawab, utamanya pemerintah dan rakyat sendiri. Kita sama-sama menyelesaikan," kata Bahlil.

 

Terbuka Impor BBM dari Rusia

Pengendara mengisi BBM di SPBU Jakarta, Minggu (10/2). Hari ini BBM kembali diturunkan Pertamina adapun penurunan harga BBM ini, untuk wilayah Jabodetabek, harga Pertamax Turbo diturunkan dari Rp 12.000 jadi Rp 11.200 per liter.(Liputan6.com/AnggaYuniar)

Di sisi lain, Bahlil juga sangat terbuka untuk mendatangkan impor BBM dari berbagai negara, termasuk Rusia. Selama harga minyak dari negara bersangkutan terjangkau.

"Semua negara, semua negara ada kemungkinan. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana barang ada, yang kedua harganya kompetitif. Itu yang paling penting," ujar Bahlil pada kesempatan sama.

"(Termasuk Rusia?) Ya kenapa tidak? Wong Amerika aja sekarang sudah membuka untuk Rusia kok," dia menegaskan.

 

Jajaki Kerja Sama dengan Brunei

Petugas melakukan pengisian bahan bakar pertalite di SPBU Pertamina Abdul Muis, Jakarta, Kamis (30/6/2022). PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Pertamina Patra Niaga, akan melakukan uji coba pembelian bahan bakar minyak (BBM) subsidi, Pertalite dan Solar, secara terbatas bagi pengguna yang sudah terdaftar pada sistem MyPertamina, mulai 1 Juli mendatang. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Lebih lanjut, Bahlil mengabarkan pemerintah juga sudah melakukan penjajakan kerja sama dengan Brunei Darussalam, untuk pasokan minyak dan gas bumi (migas).

"Kemarin kita di Brunei dengan wakil perdana menterinya kita melakukan komunikasi bilateral. Transfer teknologi, kemudian saling mereka juga mau belajar ke Indonesia," ungkap dia.

"Kita juga mengatakan kalau mereka mempunyai gas C3 C4 untuk bahan baku LPG, bisa kita ambil punya mereka juga atau kita bangun industri LPG di sana untuk offtaker-nya di Indonesia," tuturnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya